Love in
Pain
“Buk,
boleh minta sayur bayam seuntai dan 2 tomat merah segar itu? Trus beri saya
bumbu nya ya bu, yang pantas untuk dimasak dari 2 macam sayuran itu”, pintaku
sambil tersenyum pada ibu penjual sayuran di Pasar Pagi hari ini. Tanpa
kusangka jawaban yang tak pantas hadir di tengah bibir penjual sayur yang
cerewet itu seketika berubah menjadi sangat sinis dan tatapan matanya sangat
tajam, bagai elang yang berkecamuk, serta wajahnya menjadi masam tak enak
dipandang sedikit pun, kata-kata itu begitu menyolot perasaanku yang awalnya
ceria menjadi kalut dalam mendung hitam di dalam hatiku ini, aku tak menyangka
ibu itu mengatakan hal ini. “Kamu itu bodoh atau bagaimana, bayam dengan tomat saja tak tau
bumbunya apa, memang ya tidak sepadan dengan kemampuan mu menyilat orang lain.
Pergi saja kamu dari sini, masih banyak yang antre dibelakangmu”. Aku mulai
merasakan jantungku ini berdebar begitu keras, hati ini ingin meledak-ledak dan
tangan yang kaku ini ingin menampar pipi yang menor itu, aku tak mau melakukan
itu tapi, aku takut ini akan terulang lagi seperti dulu kala, lantas aku bergegas
pergi dari kerumunan orang-orang yan menatapku kasar, aku malu juga, tak
sedikit dari mereka yang menertawakanku.
Aku lanjutkan perjalanan pagi yang mengesalkan ini,
perlahan kuhilangkan rasa kesal yang tadinya mengambangi hatiku ini, aku pergi
agak jauh dari Pasar Pagi, bergegas menuju kota, yang masih termasuk di kawasan
Desa Putih ini, kulayangkan pertanyaanku lagi pada penjual minuman hangat di
depanku, “Pak, teh ini harganya berapa ya? Boleh saya minta satu gelas dengan
gula sedikit dan sedotan juga ya, Pak”, aku memberikan senyuman yang begitu
ikhlas yang berasal dari lubuk hati ini, malah pedagang kurangajar itu juga
mengusirku kasar “Heh, aku tak sudi menerima pembeli seperti kamu ya, walaupun
kau beli dengan sekarung emas pun tak akan kuijinkan, enak saja suruh-suruh
buat ini buat itu, pergi sana!”. Ini untuk yang kedua kalinya, mataku mungkin
mulai memerah, rasanya tubuh ini bagai di telanjangi dan di lempari batu
kerikil yang membuat perasaan malu ku ini bertambah dengan sakit hati yang perih
nya mendalam hingga menusuk ke ulu hati. Lagi dan lagi aku harus pergi dengan
tangan hampa dan perasaan sesal serta hancur, aku pulang dengan sangat lapar di
perutku ini, sampailah aku dirumah sederhana peninggalan orangtuaku yang
sekarang merantau ke negeri orang tanpa tau apa yang dihadapi anaknya saat ini,
aku tertidur sampai pagi karena aku tak mau lapar, mungkin aku sempat
mendengkur juga.
Pagi ini menyapaku sangat cerah hingga aku ingin saja
pergi ke pasar hopeless itu, tapi aku
tak pernah putus asa dalam mengembalikan kehormatan ku ini, kucoba beribu-ribu
kali walaupun gagal dan terus gagal, aku tak pernah membencinya, mungkin ini
belum saat nya untukku, yah itu nasehat dari lubuk hatiku sendiri, maklum tak
ada yang mau menasehati orang aneh macam aku. Sesampainya aku di pasar, kucoba
sekali lagi menanyakan makanan ringan pada gadis belia di sudut gang “Hai dek,
boleh kakak beli sebungkus camilan keju, sekotak minuman dingin, dan selusin
roti kering?”, “Silahkan kak, semuanya duaratus ribu rupiah”. Gadis kecil itu
menunggu ku mengambil uang dari dalam tas yang dari tadi pagi sudah kusiapkan,
sambil kurogoh dalam-dalam, aku membatin mungkinkah hari ini adalah hari
kebangkitan kehormatanku, ah aku meleset. “Sherly, cepat tutup toko ibu,
batalkan transksi jual beli itu. Cepat!”. Suara ibu gadis itu sangat lantang
bagai kan berseru melawan penjajah, gadis itu terpental, aku juga, jantung ini mau
copot rasanya, lagi lagi aku ditolak di negeri ini, ah sesak rasanya dada ini
merasakan kepedihan yang aku ciptakan sendiri, ke khilafan ku membawa ku
kedalam alam hancur diriku ini.
Aku melangkah keluar dari pasar, dengan sangat malas,
seretan sandal butut ku ini mulai terdengar, maklum aku belum bisa beli sandal
sampai saat ini, langkah kaki ku ini terhenti saat ada seorang pemuda yang
sangat tampan berdiri di depanku sambil menatap wajahku dengan keheranan yang
pasti, aku merasa bagai ditemui malaikat yang bisa membangunkan ku dari masalah
dan dunia yang seperti mimpi buruk bagi diriku ini. Kugelengkan kepalaku dengan
mata ini yang pandangan nya tadi kosong menjadi berisi lagi,tapi aku kembali
melamun lagi melihat mata pemuda itu begitu biru samudra, sumpah bening sekali,
aku berasa sedang di lautan lepas saat menatapnya. “Hai.. Hai.. Kamu Cherish
Kartney kan?”, strakstt dia mengagetkan ku, “Iya ini aku Cherish Kartney, ada
apa ya? Mohon maaf kalau hanya ingin mencaci ku aku tak akan lama disini.”, aku pergi sambil
meninggalkan tanda titik di perkataan ku tadi, tanpa kusangka, pemuda itu
menarik syal di leherku “Aduh, sakit ini”, aku berteriak kencang hingga
menolehkan muka orang-orang lain disekitarku dan dia. “Astaga, maaf maaf, aku
tidak bermaksud begitu, kenalkan aku David Dominico, panggil saja Dave, aku ini
dari Kuravaska”. Oh astaga senyuman itu sangat manis bagai gula-gula lembut
yang di gantung di toko permen, tapi aku sok sinis menanggapinya, aku takut ini
akan buruk untukku, kan hampir tak ada yang mau bicara denganku “Ada apa Dave
mencari saya? Panggil saya Chey”. “Aku kesini mencari kamu pasti ada sesuatu
yang amat penting yang akan kubicarakan padamu Sang Legenda”, senyum nya mekar
lagi. Aku ternganga dan terbelalak, Sang Legenda? Orang dari negara lain pun
tau tentang aku, oh Yang Maha Kuasa, apa salahku terlalu besar. Aku tak kuasa
menahan air mata ini, lalu perlahan tak dapat kubendung lagi, mata ini sedu
rasanya, “Emhh, ada kepentingan apa Dave?”. “Maaf Chey kalau saya membuat kamu
jadi sedih, tenang saja hanya saya yang tau sebutan itu di Kuravaska, ini
privasi mu, akan saya jaga, tenang”, wajah Dave mendadak menjadi sangat lembut
seakan dia sangat bersalah memanggilku Sang Legenda, di wajahnya ada sekilas
raut yang menyesal. “Emm, tak apa Dave, sudah menjadi kebiasaan, terimakasih
soal itu, lanjutkan saja, kita to the point”. “Ini kan masih jam 10 pagi,
bagaimana kalau aku mengajak mu ke taman yang sepi saja, oke kan?”. Aku kaget,
jadi sudah dua jam aku berbicara dengannya, aku langsung mengangguk kan kepala
tanpa berkata sepatah kata pun. Aku dan Dave langsung ke taman.
“Langsung saja aku mulai pembicaraan ini, asal kamu tau
Chey, kita ini makhluk istimewa, aku dan kamu, yah, kita sama-sama berbeda
dengan orang lain di sekeliling, cuma aku masih diterima oleh orang-orang
disekitar, maaf tidak seperti kamu, maka aku pergi ke negeri ini untuk menerima
perintah guru pribadi ku, beliau menyuruh ku untuk menolong wanita Sang
Legenda, maukah kau?”. Aku menitikkan air mata perlahan-lahan, kata –kata Dave
begitu menjumput separuh nyawa ku, aku tak tahan dengan muka bohongnya itu,
sudah kutebak dari awal bertemu, pasti dia juga tak lain dengan orang-orang
disekitarku. “Aku tau Dave, semua orang di desa ini, bahkan di negeri ini,
bahkan di negeri orang lain juga membenci ku, maaf kamu tadi mendekati kuhanya
mau mengejek ku dengan kata-kata sok lembut mu itu, aku tak perlu di tolong
oleh siapapun, lagipula pada akhirnya kau juga akan mencaci ku tak beda jauh
dengan orang lain, maaf tidak ada waktu untuk orang semacam kamu, terimakasih
atas cacian dan bantuan gak penting mu itu”, titik dan titik itu begitu tebal
di akhir kata-kata ku,aku pergi dengan segudang rasa yang amat sangat kesal,
Dave di tempat duduk taman itu hanya terpaku mendengarkan amarahku yang
menggebu-gebu, kupikir seseorang yang tampan dan selembut itu juga akan lembut
hatinya, ternyata aku lagi lagi meleset dengan dugaan ku yang bodoh ini, ah aku
tak tau harus apa lagi, aku pulang ke istana ku lagi, hanya dirumah lah, aku
bisa dihargai oleh makhluk tak dikenal dan benda-benda yang ada dirumah, isak
tangisku tak bisa berhenti, entah mengapa ada yang janggal dengan pemuda lembut
menyebalkan itu, perasaan ini tak bisa bohong lagi aku tak mungkin lah jatuh
cinta pada pemuda yang sudah menghancurkan hati dan hari ku saat ini, tapi
makin ku hilangkan perasaan ini, makin
dalam saja rasa ini terhadap Dave, sebaiknya aku tidur...........
Mentari mulai menunjukkan sinarnya, tak harus menunggu
lama, mataku mau terbuka, rasanya tak berat hari ini padahal kemarin aku begitu
lelah menghadapi segudang masalah, mengapa pagi ini aku seperti mendapat panggilan
hati untuk pergi ke taman lagi, aku tak tau harus menemui siapa, daripada terus
bertanya-tanya dan penasaran, aku ke taman. Kulihat disana ada sesosok bayangan
yang tinggi yang bersandar di bawah pohon mangga yang mandul, yah apalah ini,
itu Dave, kudekati dia, aku tak tahan dengan perasaan ini. “Dave”, suara ku
lirih memegang pundak yang tegak itu Dave menoleh sambil tersenyum, oh gila,
ini godaan lagi “Ya Chey?”. “Maaf ya Dave soal kemarin, haha, bodohnya aku yang
langsung emosi dengan kamu, padahal kan aku belum tau topik pembicaraan mu yang
sebenarnya, jadi mendingan kamu ke rumah ku aja, aku gak lagi sibuk kok”.
“Wah
Chey, rumah kamu rapi juga, cocok nih”, sambil kusodorkan segelas kopi hangat
diatas meja, aku heran, apa maksut Dave ngomong seperti itu. “Hah, apa Dave?
Cocok itu maksudnya gimana? Yang cocok apanya aku gak ngerti lho”, aku begitu kikuk saat bertanya pada Dave,
langsung dia sedikit tertawa dia menjawab kata-kata ku, nafasnya menghela
panjang. “Yah, aku pernah diberi cerita oleh guru pribadi ku, katanya di negeri
ini pernah ada seorang gadis belia yang mengalami suatu kasus yang begitu
menyayat hidupnya hingga sekarang. Kata beliau, dia pernah sekali, bukan
bertengkar, hanya beradu mulut pada saudagar kaya di negara pertama ia tinggal
yang mempermasalah kan pembayaran upeti yang terlambat, padahal gadis itu
sedang ber asa mencari uang, pada akhirnya terjadi adu mulut yang begitu hebat,
karena kehebatan spiritual gadis itu, sang saudagar kaya bisa disilat lidah nya
oleh gadis itu sampai pingsan karena semua aibnya dibuka oleh gadis itu, hingga
lama tak sadarkan diri, saudagar kaya nan terkenal sampai negeri orang itu pun
meninggal dan berita itu menyebar, saat itu juga sang gadis itu diusir dari
negeri yang ia tinggali dengan penuh rasa salah bagai pembunuh. Apakah gadis
itu kamu Chey?”, Dave memandangku sangat
serius, hingga kenyataan pahit yang dilontarkannya pun menggores luka yang
sudah lama terjadi itu,tapi susah untuk dilupakkan oleh orang-orang. Aku mulai
perlahan membuka mulut yang sedari tadi terkunci rapat dan hilang entah kemana
kuncinya, mulai kujawab pertanyaan dan pernyataan yang diberikan oleh Dave,
satu kata dengan kata yang lain akhirnya tersambung juga di mulut ku ini.
“Dave,
aku sudah tak bisa mengelak dari orang lain lagi, memang gadis itu adalah aku,
aku ini begitu terkenal dengan sebutan si Silat Lidah, mereka bilang bahwa
kata-kata ku ini bisa membuat orang lain bagai di silat lidahnya dengan sebilah
bambu yang masih dipenuhi serabut, bila terkena, akan sangat menyiksa hidup,
bisa kau bayangkan kan?”, aku menutup wajah pucat dan wajah malu ku. “Hai Chey,
tak perlu sungkan, bukalah tanganmu itu, jangan biarkan aku tak melihat mata
mu, bagaimana aku bisa mencerna setiap kata-kata yang akan kamu sampaikan
padaku kalau kamu terus menutupi wajahmu”, Dave menyuruhku sedemikian, hingga
aku mulai melanjutkan cerita ku yang masih bersambung tadi. “Yah, dulu masih
saja ada penarikan upeti, saudagar kaya itu namanya Raja Buton Patuah, sama
sekali tak bijak, saat itu aku sedang menjual susu sapi di ladang tempat
orang-orang mengais rezeki. Dia datang padaku dan langsung memarahiku, dia
bilang aku ini miskin, dan semua yang buruk dikatakannya dari mulut yang bau
itu, aku tak bisa menahan emosi Dave, itu terlalu menyakitkan, hingga kemampuan
yang aku miliki itu keluar dan aku berani membuka aib keluarganya, aku bilang
dia pernah ini pernah itu dan aku tak pernah sadar saat mengatakan hal buruk
itu, tak lama kemudian pun, Raja Buton Patuah pingsan berminggu-minggu sampai
akhirnya tabib pun menyatakan ia sudah tiada, akhirnya aku diusir dan aku
singgah di negeri ini, sama saja Dave, aku tak dianggap”. Dave tak berkata-kata
juga, kulanjutkan cerita ku ini “Akhirnya aku tak punya cukup uang lagi, Dave
setelah aku memutuskan pergi ke negeri ini, jadi selama ini hidupku begitu
kosong, aku hanya luntang-lantung mencari kehormatanku yang dulu pernah hilang.
Yang pasti, sebelum kejadian itu terjadi, aku sangat disenangi banyak orang,
terutama sebelum orangtuaku merantau ke negeri orang, aku dan segenap keluarga
kecilku banyak diberi senyuman oleh orang-orang di sekeliling”. Aku terus
menangis sambil sesekali mengusap air mataku karena menceritakan hal itu kepada
Dave, yang baru beberapa jam ku kenal, setelah menunggu respon Dave, beberapa
detik kemudian dia mulai membuka pembicaraan lagi yang daritadi ia tutup karena
mendengarkan cerita panjangku, mungkin ia haru akan hal itu, atau mungkin dia
akan menertawakan ku karena menurutku juga, cerita itu sedikit konyol. “Oh,
jadi begitu ya Chey, aku mengerti bagaimana perasaanmu saat itu dan mengerti
juga perasaanmu saat ini, mungkin jika itu terjadi pada wanita lain, aku tak
yakin mereka bisa sekuat kamu, yah kupikir kamu ini sangat kuat Chey, baru kali
ini aku temukan seorang wanita yang setabah ini, menahan perih yang setiap hari
dirasakan, sampai hari itu berlalu menjadi tahun. Astaga, itu luar biasa Chey,
tenanglah, hapus air mata mu itu, bagiku tiada berarti meneteskan air mata
penyesalan”, Dave menatapku dalam-dalam dan meyakinkan ku untuk berhenti
membuang buang air mata ini, suaranya yang lembut itu bagai menyentuh dan sejuk
menyirami hatiku yang gersang dan ditumbuhi kaktus berduri, lama-kelamaan
hatiku yang tadinya keras bagai bongkahan es di kutub selatan, kini seakan
mencair dan mungkin airnya akan merembes ke lantai terasku. Lalu kulanjutkan
bercengkrama masalah lain dan mulai ada sedikit tawa diantara kita berdua, tadi
hari masih pagi, sekarang sudah menjadi sedikit turun cahaya matahari nya,
mungkin ini hampir sore, tapi aku dan Dave tetap melanjutkan cerita. “Oh, iya
Chey, bolehkan aku besok datang ke rumahmu lagi? Ada yang ingin aku bicarakan
lagi, ini masih mengenai masalah tadi, plis lah aku benar-benar makin penasaran
dengan dirimu, ini seperti mendengarkan dongeng anak-anak sebelum tidur.
Keberatan nggak?”, mata yang biru itu kembali berkerlip-kerlip di depan mataku
yang hitam biasa ini, aku tak menyangkal bahwa Dave begitu nyaman saat kuajak
bicara, mungkin hari ini kusudahi pembicaraan dengan Dave, katanya ia ada
urusan yang banyak hari ini, padahal aku sudah sangat nyaman bersamanya
seharian, sebelum pulang ia sempat meminum segelas kopi yang kuberikan padanya
tadi, mungkin sekarang sudah mendingin, aku melihatnya ia lama-lama menjauh pergi
dengan motornya, itu rasanya seperti melepaskan malaikat ku ke angkasa, aku
masuk ke rumah, hati ini terasa begitu plong.
Pagi
hari ini aku sedikit jengkel juga, Dave gak nongol, aku sudah menunggu cukup
lama. Tak butuh waktu yang banyak, emosiku bisa terpendam, dari kejauhan ada
pemuda yang tinggi memakai baju abu-abu berlari ke arah rumahku, senyumku
menebar lagi. “Hai, Chey! Maaf terlambat ya, ini aku belikan banyak makanan
untukmu, kasian berapa hari kamu tak beli makanan”, sambil menyodorkan makanan,
Dave tersenyum, oh dan oh, itu bukan
manis gula-gula lagi, sekarang senyuman itu bagai lolipop yang manis dan penuh
warna, memandang Dave itu seperti memandang pelangi di angkasa raya ini,
perhatiannya juga yang mampu mencuri hatiku ini yang termasuk dingin juga
menerima lelaki di dunia ini, makanan itu seperti hadiah ulangtahun bagiku,
lama tak merasakan jajanan pasar yang mantap itu, kumulai makan satu-satu
makanan yang lezat itu, sesekali kulirik Dave, dia tersenyum-senyum saat
melihatku makan, “Chey, bagaimana rasanya tak makan bertahun-tahun disini?”.
“Ahahaha Dave, rasanya begitu tersiksa, tapi makanan yang kamu bawakan hari ini
seperti makanan surga rasanya, nikmat dan langka bagiku. Ya sudah mulai saja
sekarang, apa yang akan kamu sampaikan
padaku?”. “Emmm, begini aku sangat berniat ingin membantumu bangkit Chey?”.
“Uhukk... uhukk”, aku sedikit tersedak mendengatr kata-kata itu, “Apa maksudmu
Dave? Membantuku, bagaimana caranya, aku ini sudah sangat dibenci orang, susah
kalau dengan cara biasa pun mau sampai kamu jatuh bangun jungkir balik ribuan
kali, tak mungkin bisa bangkitkan aku”... “Hahahaha, tenang aja, aku sebenernya
juga ada kemampuan seperti kamu, tapi ini beda, aku ini bisa pergi ke masa lalu
mu, aku sanggup memperbaiki keadaanmu menjadi lebih baik di masa itu dan masa
ini”. “Hah? Ak..aku mau Dave kalau itu sungguh-sungguh akan kau lakukan mengapa
tidak? Hampir putus asa juga aku bertahun-tahun menjaga perasaan ini”, aku
benar-benar meyakinkan Dave supaya ia tak kecewa. “Yasudah, kalau kamu memang
mau, tapi hanya ada satu syarat nya. Ikutlah aku pergi ke Kuravaska, temui guru
pribadiku, tak mungkin lah aku bisa lakukan ini sendirian”. ‘Ap..ap..apa? harus
ke Kuravaska, yah Dave, yah, aku mau lah, ke ujung dunia pun aku bersedia kalau
memang ini bisa diselesaikan”. “Oke Chey kalau begitu, berkemaslah mulai sore
ini, besok pagi kujemput kau, kemarin aku pergi untuk memesan tiket pesawat
kesana, dan saat itu juga aku langsung berdoa sampai dirumah, supaya aku bisa
membawa mu ke Kur”, dia sangat lega mungkin mendengar jawabanku ini, di hatinya
pasti sangat bergejolak antara kepastian atau hanya jawaban kosong, untung saja
aku menjaga perasaannya.
“Dah
siap, semua koper sudah ku bawa, masker juga tak lupa ku bawa, semua lengkap,
ini seperti bepergian bulan madu saja rasanya, ah apalah otakku ini aneh”..
“Cherish, ayo, sudah kusiapkan taksi untukmu, cepat masuk sana, eh, kenapa itu,
kenapa pake masker penutup wajah?”. “Dave, apa kamu gak tau, di depan mu ini
Sang Legenda”. “Oh iya gila aku ini sampai lupa dengan kamu, yasudah ayo”. Sepanjang perjalanan ke bandara, aku terus
memandangi wajah Dave dari samping yang menikmati pemandangan kota besar dengan
gedung-gedung tinggi yang menjulang sampai ke angkasa, tak lain juga saat sudah
duduk di dalam pesawat, aku terus bercerita, Dave juga, ini ngobrol yang paling
asik yang pernah aku rasakan, sungguh luar biasa, rasanya seperti berdua di
dalam senandung cinta yang menggelora, burung-burung berterbangan seperti bunga
sakura yang berguguran di tengah percintaan anak manusia, pelangi terbalik
menggambarkan senyuman manis yang begitu indahnya, aku mungkin jatuh cinta
dengan Dave, tak mungkinlah kukatakan ini pada Dave, terlalu awal, aku juga
takut Dave malah meninggalkan ku, aku takut sungguh.
“Chey,
Chey, Chey”, Dave menepuk bahuku lumayan keras, astaga, ini tadi hanya mimpi,
kupikir beneran. “Ini udah mau sampai ya Dave?”. “Sudah sampai Chey, kamu pulas
sekali tidurnya, masak pagi begini udah ngantuk aja”. “Ehehe Dave, nggak tau
juga”, aku menggaruk-garuk kepala karena sebenernya tadi aku mimpi indah. Wah,
Kuravaska lumayan juga, bagus, desanya tertata rapi, tak buruk juga, masih
sangat segar, dan aku sampai di sebuah rumah sederhana yang didepannya ada
rerumputan segar yang terpotong rapi. “Dave, ini rumahmu?”. “oh iya, ini rumah
ku dengan guru pribadi ku, ayo cepat masuk, guruku sudah menunggu di dalam”.
“Guru, selamat siang, ini aku bawakan wanita yang guru maksudkan”. “Ini kau ya Cherish
Kartney, perkenalkan saya guru Dave, nama saya Dan Loir, sudah tau kan maksud
kamu datang kemari dengan Dave?”. “Iya Dan Loir, saya tau, apakah Anda yang
akan membantu saya?”. “Begini Kartney, bukan saya yang akan membantu kamu, tapi
Dave, dia yang akan masuk ke hidupmu”, orangtua itu tersenyum, badannya sudah
membungkuk juga rupanya, nampaknya ia benar-benar orang dekat Dave. Lama kami
berbincang-bincang di dalam.
“Tunggu
dulu Dan Loir, cara yang dilakukan David itu apa akan berlangsung seharian penuh?”.
“Yah, begini Kartney, tergantung Dave masuk ke dunia mu tahun berapa, mungkin
kalau masalahmu ini bisa 2 minggu lebih, tapi tenang ini bagai tidur malam yang
nyaman bagi kamu maupun Dave, ini akan terasa seperti 2 jam tidur”, Dan Loir
meyakinkan ku agar aku tak panik mungkin, Dave juga menganggukan kepalanya
sambil bolak-balik memandangku, kemudian memandang guru nya kembali. “Oke,
kalau begitu Dan Loir, kapan saya dan Chey bisa lakukan ini?”. “Tenang muridku
David, kamu dan Kartney bisa lakukan ini besok sore, akan kujaga kalian
berdua”. “Baik Dan Loir”, “Ya Dan Loir”, aku dan Dave setuju dengan hal itu.
Aku juga harus persiapkan diriku buat besok.
“Makan
dulu Chey, minum, dan istirahat dulu kalau memang masih ngantuk”, Dave
tersenyum. “Iya Dave, aku juga mau makan, ayolah bareng kamu aja”. “Ya deh,
yuk”. “Eh, Dave, aku gak siap, em maksudnya lumayan gugup sih mau melakukan
ini,kamu udah siap Dave?”, Dave tertegun “Aku gak pernah tau Chey, aku serin
sekali melakukan ini pada oran lain untuk memulihkan penyakit, atau yang lain,
tapi sungguh aku gak pernah tau, hari ini berbeda saat aku menolongmu, aku kaku
juga”, Dave sedikit malu katakan itu, aku juga sedikit tersipu dengan
kata-katanya, itu luar biasa, apa mungkin Dave juga punya perasaan yang sama dengan
yang aku rasakan saat ini ya, ahsudahlah aku ini bisanya berkhayal dan
membayangkan hal-hal indah bagaikan terbang bebas di angkasa, toh aku juga gak
akan ngerti apa Dave betul-betul suka padaku. Lama aku melamun, Dave bertepuk
tangan di depanku “(prok prok) Heiii.. pagi pagi udah nglamun, gak baik lho,
aku makan, Dan Loir nanti akan menunggu di depan perapian”. “Ya..ya Dave, maaf
gak tau kenapa tiba-tiba melamun, yaudah makan trus kita temui Dan Loir”, aku
kaget, lidah ini begitu susah mencerna kata-kata yang akan keluar dari
tenggorokan, mulut pun hanya bergetar seperti kesemutan saja. Kini aku dan Dave
benar-benar sudah siap, kutemui Dan Loir di depan perapian, tak kusangka,
ruangan itu sangat rapi, indah, dan sejuk seperti masuk dalam istana raja yang
megah dengan perapian dan barang-barang memadai, ternyata rumah sederhana ini
isinya luar biasa menarik mata.
“Dan
Loir, ehh mungkin aku sudah siap melakukan ini, tapi sebelumnya tolong berikan
aku pengertian tentang ini”. Dan Loir menarik nafasnya cukup dalam, bisa
kulihat rongga dada yang menua itu naik dan membusung ke depan cukup lama,
barulah ia memulai bicara, “Kartney, ini adalah sebuah metode Jalan Lampau,
nanti Dave akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk masuk ke dalam dunia mu,
kamu bisa saja berhubungan dengan Dave, tapi mungkin disana akan ada perkenalan
yang baru diantara kalian berdua”. “Maksudnya apa Dan Loir? Aku sungguh tak
paham dengan semua ini”, Dave yang dari jauh mendengarkan percakapan ku dengan
Dan Loir akhirnya ikut nyambung juga. “Begini Chey, taun berapa kamu melakukan
hal itu pada Raja Buton Patuah?”. “Tahun 2005 Dave, ada apa?”. “Ini 2013 kan?
Berapa usiamu saat ini?. “Aku 23 tahun Dave, tepat bulan kemarin aku
ulangtahun”. Cukup lama Dave berpikir, “Nah Chey, nanti aku akan menuju ke
tahun 2005, aku akan mencari kamu disana, tenang saja aku gak mungkin
tersesat”. “Kalau begitu pergi saja ke tahun 2002, aku merasakan mendapat
anugrah itu pertama kali di tahun itu?”. “Wah berarti umurmu saat itu masih 12
tahun, dan aku sendiri 17 tahun, ini bahaya”. “Bahaya apanya Dave? Ada apa?”. Muka
Dave tiba-tiba memerah, “Di usia itu, aku benar-benar pemuda yang playboy dan
sangat genit pada gadis belia bawahanku, aduh gimana ni?”. “Hahahaha Dave, itu
lucu sumpah, gak perlu malu, itu usia yang wajar untuk mengejar cinta-cinta
yang buta, banyak dulu teman lelaki ku saat aku berusia 17 tahun, mereka
berhias diri dengan wanita cantik dan bergonta ganti pacar”. “Ya lah, aku
mengerti itu”. ‘Tapi ini mungkin sedikit sulit Dave, Dan Loir, di usia ku yang
masih 12 tahun, aku begitu pendiam, tak banyak teman dan aku mulai merasa kacau
saat itu”. “Tak apalah Chey, mari kita coba”. Dan Loir yang daritadi tak banyak
bicara langsung menyuruh ku dan Dave tidur di kasur lumayan kecil, aku
berpegangan tangan dengan Dave, deg-deg an juga rupanya, berpegangan tangan
rasanya seperti mengikat sebuah tali yang erat dalam rasa cinta yang masih
abu-abu ini, pegangan Dave terasa makin erat menggenggam jari –jariku, tak
ketinggalan juga dengan tanganku yang mulai mengepal menjabat tangannya yang
lebih besar. Aku mulai tertidur, rasa ngantuk itu tiba-tiba datang, mata ini
berat sekali dibuka, dan aku tak ingat apa-apa.
Saat
ini tahun 2002, saat seorang anak kecil kini tumbuh menjadi gadis belia, ini
dia Cherish Kartney, masih sangat muda, rambutnya panjang terurai, mata
indahnya yang hitam juga menakjubkan, bibirnya lembut bagai sutra. Mungkin saat
itu belum genap usianya 12 tahun, 11 seperdua tahun mungkin, wajahnya begitu
ceria, banyak anak remaja lelaki yang lebih tua menggoda dirinya, karena
wajahnya cantik dan molek berbeda dengan anak-anak remaja seusianya yang
penampilannya nampak lebih lusuh karena warna kulit yang lebih gelap, tepat
saat itu bulan November, dia berulangtahun, tiba-tiba dia merasakan sesuatu
yang aneh pada dirinya, setiap dia melihat wajah teman-teman bermainnya, tak
ada apapun yang terjadi tiba-tiba dia sering terpental-pental sendirian, mata
hitamnya itu menangkap sebuah tabir yang langka adanya, dia bagai penyihir,
belum sadar saat itu, mulutnya sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain, banyak temannya
yang sudah tersakiti oleh perkataannya, lama-kelamaan dia sendiri tak punya
lagi teman bermain, di usianya yang masih timur itu dia tak tau harus berbuat
apa, setiap ingin bergabung dengan anak-anak yang lain di desa, ia selalu
diusir oleh orangtua mereka, Cherish sedih tak pernah tau apa yang dialaminya
saat ini, apa yang sebetulnya terjadi. Tiap malam ia selalu ceritakan itu pada
orangtuanya, namun dia tambah liglung saja, orangtuanya tak mu sedikitpun
memberikan ketenangan jiwa pada anaknya, mereka fikir, anaknya hanya terlalu
pendiam, rasa sesak di dada gadis belia itu menodai keceriaannya, yang sama saja
seperti menghilangkan separuh nyawanya.
Sore hari yang cerah, dia berjalan di sekitar
taman yang sepi, tak ada orang yang berlalu lalang, biasanya sore-sore begini
banyak pasutri yang memberi makan anak mereka diatas ayunan kayu yang cat nya
sudah pudar, dari kejauhan nampak riuh banyak anak-anak perempuan remaja
rupanya, mereka berkeliling sambil tertawa girang, saat di dekati ada seorang
remaja lelaki tampan yang sangat menawan, bibirnya merah muda, kulitnya bersih,
matanya sedikit biru saat terkena sinar matahari , tapi Cherish tak suka remaja
itu, kata-katanya gombal banget, pantas banyak perempuan yang mengerumuni, saat
para perempuan itu berbalik ke belakang, mereka memandangi Cherish penuh rasa
kesal, “Hei, mau apa kamu kesini, dasar anak aneh”, usirnya. “Ya pergi sana,
disini yang boleh mendekati David hanya anak-anak yan normal saja ya!”,bentak
gadis lain. Tanpa pikir panjang Cherish yang saat itu menangis karena diejek
anak perempuan langsung pergi, Dave muda memanggilnya “Tunggu, siapa namamu
tadi?”. “Tak perlu tau siapa namaku, apa pentingnya bagimu”, Dave muda
menaikkan alisnya, “Yah, aku hanya ingin tau sih sebenernya, kamu itu menawan
sekali, dimana rumahmu manis?”, Cherish hanya tertegun dan merasa akan terbang
saat Dave bilang dia manis, “Umm.. rumahku di sudut”. Cherish yang tersipu
akhirnya pergi berlari dan Dave yang mulai merasakan getaran cinta remaja mulai
senyam-senyum sendiri, tapi dia juga tak lupa untuk kembali ke taman lagi
menggoda anak-anak perempuan.
Hari
masih sangat pagi, anak yang rajin tak mungkin lupa membersihkan teras
rumahnya, suara serak-serak sapu lidi itu membangungkan ayam-ayam tetangga,
sinar mentari muncul juga, jam menunjuk pukul 06.00, semua pkerjaan sudah beres
tentunya oleh Cherish, dari kejauhan remaja lelaki itu datang kerumah Cherish,
terjadi perbincangan panjang pagi ini. “Wah, sudah bangun juga malaikat manis
ini”. “Kamu? Ada apa datang kerumahku? Jadi kemarin kamu menanyakan rumahku itu
ada tujuannya juga”. “Pasti adalah Chery”. “Tunggu tunggu,namaku Cherish bukan
Chery, namamu siapa?”. “Aku David
Dominico, panggil saja David atau Dave, lihat pelangi itu Cher” . “Pelangi?
Mana aku tak melihat, mustahil tak ada hujan ada pelangi Dave”. “Yah itu
pelangi diantara hitamnya matamu Cher”. Cherish tersipu malu “Dave kamu itu
penggombal berat. O iya pernah lihat samudra dari balik desa ini?, aku
melihatnya sekarang”. “Mana mungkin samudra bisa dilihat dari sini Cher?”.
“Bisa, buktinya kamu punya sepasang di matamu, itu wonderful Dave”.
Percakapan pagi itu berlangsung seru juga, tapi ada
sekelompok remaja wanita yang tiba-tiba melempar batu ke arah Cherish, “Hai
anak aneh, itu David milik kita ya, David, apa-apaan, jangan dekati anak aneh
itu, hih menjijikan”, sambil memaki Cherish mata wanita muda itu melotot.
“Sebaiknya kalian yang pergi darisini, apa kalian tak punya perasaan, kasihan
Cherish meskipun ia punya kesalahan cobalah jangan kalian panjangkan masalah
itu, coba maafkan dia, setiap insan yang bernafas pasti punya kan kesalahan tak
terkecuali kalian”. “Kami tau, ya tapi aku menuruti kata-katamu David. Emm,
Cherish, kami memaafkan mu, jangan ulangi lagi ya. Kami juga minta maaf sudah menyiksa batinmu”.
“Sungguh? Kalian memaafkan aku?”. “Ya, untuk apa tidak, lagipula kata David ada
benarnya juga”. “Terimakasih ya tak lupa juga untukmu Dave”. “Yah, tugasku
selesai Cher”. Cherish belia tersenyum manis pada Dave, kenyataanya gadis-gadis
remaja itu menyukainya kembali.
Jam
dinding Dan Loir berdentang cukup keras di disamping perapian, aku dan Dave
sama-sama terbangun kaget, baru bangun Dave sudah terbahak-bahak “Ahahaha, wah
katamu kamu pendiam Chey, padahal kamu pandai merayu juga rupanya”. Aku
benar-benar malu dengan tertawaan Dave yang sama sekali tak lucu itu “Dave, itu
gak lucu, tapi aku pendiam termasuk, dan berani sumpah, playboy ya kamu”. Aku
dan Dave sama-sama bercerita sambil
sesekali tertawa hebat karena itu seperti mimpi, hebat, Dave hebat,
kemampuannya bisa berguna bagi orang lain, tidak seperti kemampuanku yang hanya
menyusahkamn orang lain saja. Dan Loir datang membawakan dua gelas jus segar
lalu menghampiri kami berdua yang masih gila-gilaan “Dave, Kartney, tiga hari
kalian sudah tidur dan kamu sudah selesaikan tugasmu Dave, tapi ini baru tugas pertama
ingat itu anak muda”. “Baik Dan Loir,aku tau cara menjalankan tugas dengan
baik”.
Ini
Juli yang miris, yah Juli 2004, miris untuk Cherish, dia dan juga kedua orangtuanya harus pindah ke
negara lain karena ada sesuatu yang terjadi di negeri mereka saat ini, kalau
mereka tak segera pergi mereka bisa terkena penyakit ganas yang mewabah “Ayah,
ibu, ini harus kita lakukan ya? Apa kita tidak minta vaksin saja, berat
meninggalkan rumah ini”. “Nak, ayah dan ibumu juga berat meninggalkan rumah,
tapi tenang saja kita akan pindah ke tempat yang lebih baik, ayah janji disana
akan lebih indah dari tempat ini”, ayah Cherish terus menasehati anak
perempuannya itu agar meyakinkan diri mau ikut pindah ke negara lain. Ini sudah
Agustus 2005, usia Cherish bertambah menjadi 15 tahun, tapi ini juga menambah
kepiluan yang dirasakan remaja itu, selama tinggal di negara ini yang dipimpin
oleh Raja Buton Patuah, ia tak pernah mendapatkan pekerjaan yang layak, baru
kali ini dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak seperti menjual susu sapi
atau sekedar berkebun di depan kerajaan, kini kepiluan itu harus bertambah
lagi, ibu dan ayahnya harus merantau ke lain negara, itupun sangat terpaksa,
gara-gara Raja Buton Patuah tidak suka kalau ada orangtua yang bekerja di
istananya, dia hanya ingin para pemuda dan pemudi yang segar yang bisa berkebun
atau mengerjakan pekerjaan lainnya. “Ayah, ibu, apa tak bisa kita bersama lebih
lama lagi, ini baru setahun kita pindah, kenapa kita berpisah? Kan aku boleh
kan ikut kalian?”, Cherish yang masih muda meneteskan air mata yang tak ada
habisnya, rasanya dia tertatih tanpa kedua orangtua disampingnya. “Nak, kamu
kan tau, yang tua dan yang muda dibedakan disini, tugasnya beda, Raja Buton
Patuah tak suka kami disini, dan dia juga tak suka kamu disana, yang penting
jaga dirimu baik-baik ya”. Hancurnya perasaan remaja itu, setiap hari hari-hari
yang dilaluinya begitu menyesakkan dada, menjadi penjual susu sapi itu tak
enak, berkeliling ke seluruh desa, sorenya dia juga harus berkebun di istana,
terlebih upeti yang harus dibayarkannya tiap hari membuatnya tersiksa, ini
bagai mimpi yang terbawa sampai mati.
Di
istana dan juga negara serta desa yang kejam ini ada juga yang menarik hati,
disini para wanita ditugaskan untuk berkebun, sedangkan yang lelaki tugasnya
memperketat keselamatan raja bengis itu, di depan pintu ada pemuda yang tegak
berdiri, wajahnya luar biasa tampan, memakai baju ala istana yang sedikit
berkilau diterpa matahari, mata Cherish selalu memandang penjaga itu sampai
teriakan raja mengagetkan semua orang di kebun dan Cherish. “Mana upeti, mana
upeti, bayarkan, kalau tidak, kalian tidak akan dapat makanan hari ini”, semua
mata tertunduk dan tak berani melihat wajah raja kejam itu, mulutnya yang bau
kematrean harta itu menyesakkan dada penduduknya. Cherish juga sangat takut
dengan raja itu, tapi ia juga sebenarnya sangat membencinya “Aku benci raja
kurangajar itu, tak punya hati sedikitpun, suatu saat kubalas kekasaran mu
itu!”.
Sore
hari harusnya semua wanita pergi berkebun, Cherish masih sibuk ternyata di
sawah menjajakan susu sapi nya, karena uangnya belum cukup untuk membayar upeti
saat ini, tiba-tiba dibelakangnya ada Raja Buton Patuah “Kamu ini, wanita yang
kurangajar, sudah orangtuamu yang lemah itu miskin,kamu juga tak tau aturan, harusnya
disini itu tak boleh terlambat membayar upeti, dasar, kamu kubeli pun tak cukup
untuk melunasi upeti mu selama 1 tahun ini”, raja kasar itu membentak bentak Cherish yang masih muda, dia tak dapat
berbuat banyak, dia hanya sanggup memandangi raja itu,lalu semakin dalam dan
dia tak berkata apapun, tak disangka kemampuannya 3 tahun yang lalu datang lagi,
dada nya naik turun, kepalanya pening, wajahnya membiru, nafas nya
tersengal-sengal, jari telunjuknya menuding tepat di depan mulut raja itu,
kata-kata itu muncul lagi “Daaa..daasss..sar kam..kamu buton bengis,
kelakuanmu saat ini begitu kejam terhadap rakyat yang tak berdosa di negara
inn..ini, kau hanya memakan harta yang didapatkan kami susah payah, padahal kau
bilang putri mu yang sangat sempurna itu tak akan mungkin menikahi laki-laki
yang hanya berasal dari kalangan miskin seperti kami, padahal anak mu itu hanya
wanita lumpuh yang cacat mental, sehingga Ratu Alanda pun meninggalkanmu
bersama kehancuranmu dan putri sia-sia mu itu, dan kau berubah kejam agar semua
rakyat tak tau menahu soal aib mu itu kan?”, Cherish mulai merasakan pusing
yang luar biasa, sementara di hadapannya sang raja yang kejam itu terbelalak,
mata nya tak bisa berkedip, selama ini ia begitu naif, ia jatuh tersungkur tak
sadarkan diri berhari-hari sampai sang tabib menyatakan kalau raja itu mati,
rakyat pun tak percaya dengan kejadian itu, Cherish yang dikenal baik menjadi
seorang pembunuh, mereka salah paham. “Prajurit bawa wanita ini ke dalam lorong
kastil, kurung dia disana selamnya, jangan diberi makan!”, Kapten prajurit itu
berteriak keras pada anak buahnya, Cherish diseret seperti karung tomat yang
akan dibuang ke tempat sampah, dia juga berteriak sekuat tenaga meronta-ronta dan menggeliat
seperti cacing yang dipanasi besi membara, “Tidak...tidak, jangan bawa saya ke
lorong kastil, aku tak tau apa yang terjadi sebenarnya, aku bukan pembunuh
seperti yang kalian maksud, aku ini tak tau tolong saya siapapun tolong”. “Jangan
pura-pura tak tau, kau lihat Raja Buton Patuah meninggal di hadapanmu, lalu
apalagi yang akan kau bicarakan, ayo cepat jangan meronta atau kusabet kau
dengan pedang ini”, prajurit-prajurit itu menyeret Cherish dengan cepat-cepat,
rakyat juga meneriaki nya karena dia seorang pembunuh.
“Tunggu! Aku tidak
setuju prajurit, jangan kau bawa dia ke dalam lorong kastil”. “Kamu ini kenapa
Prajurit David? Dia telah bersalah, raja terbunuh di hadapannya, apalagi yang
harus tak kau setujui?”. Prajurit David sedikit termenung, mungkin ia mencoba
mengingat-ingat yang dilakukan Cherish “Hmm, harus kumulai darimana ini.
Baiklah dengarkan saya rakyat-rakyat di desa ini, Cherish ini hanya marah
terhadap raja, tapi ia benar, raja buton kan sangat kejam, dia juga begitu naif
dan tak berperikemanusiaan, harusnya kalian senang, sekarang kan tak akan ada
lagi paksaan kerja, tak ada upeti, dan tak akan ada bentakan raja yang kejam
itu”. “Yah, Prajurit David sangat benar.. hidup Cherish dan David.. Hidup!!!”..
“Prajurit, akan selalu kuhormati kau, terimakasih sudah membantuku”. “Pergilah
gadis, pergi ke negara lain, nikmati hidupmu disana, aku selesai”.
Berbeda
saat aku terbangun untuk yang kedua kalinya ini, aku menyesal pada Dave, kurang
ajar dia, dia khianati perjanjian ini, tak kuasa kutahan air mata kesedihan ini
emosi ku tak terbendung lagi “Tunggu Kartney, tunggu anak muda, jangan marah,
kalau kau marah sia-sia satu bulan kau lakukan ini”, Dan Loir membujukku
pelan-pelan, aku terlanjur marah pada Dave, “Dave, lancang nya kamu, aku hanya
memintamu pergi di tahun 2002 dan 2005, bukan di tahun 1998, itu adalah rahasia
yang paling besar yang tak boleh diketahui siapapun kecuali orangtuaku, kamu
tak meghargai kepercayaanku selama ini, aku mau ikut kamu ke Kuravaska dan
lain-lain,tapi demi balasan, aku hanya minta kamu pergi ke 2 tahun itu, kenapa
Dave, kenapa kamu ingin tahu apa yang terjadi di tahun itu, aku kecewa Dave,
aku, arggh”, kepalaku pusing sekali, mataku berkunang-kunang, sebelumnya aku
tak pernah mengalami hal ini kalau sedang memarahi orang, Dave mencoba
menenangkan ku, “Chey, aku melakukan hal itu terpaksa, saat kau masih bersama
orangtuamu di usiamu yang masih 12 tahun pertama kalinya kamu mendapat
kemampuan itu orangtua mu bilang anak kita sudah tau, kucari jawaban itu
ternyata aku menemukannya saat kau berusia 8 tahun Chey, tepat tahun ’98, kau
tak megerti apa-apa, aku kan sudah 13 tahun, aku remaja Chey, tau perbincangan
orang dewasa ternyata setelah aku selidiki, kau ini mirip ayahmu, beliau juga
punya kemampuan persis seperti mu, tapi ayahmu bisa mengendalikannya, mereka bilang
kau akan menemukan bagaimana caranya mengendalikan kemampuan mu itu agar tak
menyakiti orang lain Chey, tolong percaya padaku kali ini, aku tak pernah
main-main kan sebelumnya”, kata-kata Dave sepertinya kembali meluluhkan ku
lagi, “Jadi selama ini, ayahku juga punya kemampuan ini, maaf Dave, maaf, aku
ini mudah emosi padamu”. “Yaa, aku selalu memaafkan mu, aku juga sudah menduga
ini akan terjadi, kemarilah mendekat dengan ku dan juga Dan Loir, besok kuantar
kau pulang”.
Aku sudah sampai di desa sekarang, baru sampai di Pasar
Pagi. “Chey, mereka sudah mengenalmu pasti”, tak kusangka, apa maksud Dave,
orang-orang tetap saja tak perduli padaku, mereka hanya lalu lalang, “Dave,
lihat, tak ada yang terjaadi, sama ini sama, seperti dulu saja, tak ada bedanya”.
“Sapa mereka, coba buktikan pada wanita penjual bunga itu”, aku turuti saja
kata Dave, barangkali berhasil “Emhh, pagi kakak, boleh saya minta bunga mawar
putih nya?”, pedagang itu sedikit menjengkelkan, tak menjawab permintaanku, eh
tapi “Ya, silahkan nona, ini bunganya masih segar”. Ramah nya kupikir semuanya
hanya mimpi, setelah ku lalui satu bulan tidur dan berkelana dengan Dave, ini
berbuah juga akhirnya, tak sia-sia, ini bagai hujan yang menyirami lubuk hatiku
yang sudah lama kering karena tak pernah disentuh oleh air kesejukan jiwa,
gersang dan penuh debu-debu penyesalan kini berubah menjadi titik-titik embun
yang menetes membasahi dedaunan yang segar, aku saaangat bahagia.
“Chey,
maaf, aku tak bisa tinggal disini lebih lama, siang ini juga aku harus kembali
menemui Dan Loir, kasihan beliau, sudah renta”, wajah Dave tampak begitu
kecewa, apalagi aku, apa yang bisa aku katakan, tidak, jangan, aku tak mungkin
melarang Dave menemui Dan Loir, ah baru senang beberapa menit saja sudah sedih
lagi. Nafasku tersengal-sengal, “Dave, kamu kan baru sampai, kenapa tak mampir
dulu ke rumah, yah Dave, aku masih ingin kamu disini”. “Maaf untuk sebelumnya
Chey, aku harus menemui Dan Loir sekarang juga, dan banyak kemungkinan aku tak
akan kesini lagi, banyak pekerjaan menantiku, yasudah jaga ya dirimu baik-baik,
jangan sia-siakan waktu yang sudah kita lalui selama ini, selamat tinggal Chey
untuk selamanya”, mata Dave memerah,
akupun tak tinggal diam, rasanya berat sekali hati ini melepas Dave pergi, air
mata ini menjadi deras dan tak dapat dibendung, lagi-lagi separuh jiwaku terasa
melayang bersama kenangan Dave. Lama kelamaan bayangan Dave hilang terbawa
angin pedih di hati ini, ku layangkan senyuman tapi dia terlanjur tak melihat
ku dan tak mungkin membalas senyumku yang terpaksa ini.
Sudah tiga tahun aku ditinggal Dave, yah memang
orang-orang mulai menyapa ku kali ini, tapi tanpa Dave, bagai sayur tanpa
garam, hambar, mungkin aku akan nekat untuk pergi ke Perancis, aku akan mulai
hidup baru disana, sekarang kan aku sudah punya cukup uang, orang besar mau
menerima ku bekerja lagi, jadi aku bisa dapat uang untuk memesan tiket pesawat
yang mahal. Setelah 1 jam aku naik kereta kuda, sampailah aku di bandara, aku
mulai melangkah kan kaki masuk ke dalam pesawat, mencari seat ku, aku dapat
seat tengah rupanya, tak mungkin bisa kulupakan saat aku pernah satu pesawat
dengan Dave, walau sudah tiga tahun berlalu, susah rasanya memberai kenangan
ini, ingin sebenarnya kutenggelamkan kedalam lautan yang paling dalam yang ada
di raga ini, tapi batin ini selalu menolak, yah aku hanya berharap ke Perancis
bisa lebih bahagia, walau kutahu 3 tahun ini aku sudah lebih dari cukup untuk
bahagia.
Perancis
memang indah, apalagi saat menikmati senja yang manis di dekat Eiffel, aku
sudah dapat pekerjaan juga disini, yah walaupun tak semudah pekerjaan
sebelumnya, tapi aku selalu bersyukur dengan apa yang sudah kudapatkan. Banyak muda-mudi memadu kasih disini, menara
itu bagai saksi bisu cinta yang menggetarkan syaraf-syaraf cinta, hatiku
bergetar, sambil tersenyum aku juga ikut terharu, melihat kisah cinta nyata itu
aku kembali teringat pada Dave, aku pernah sesekali membayangkan aku akan
bertemu dengannya di suatu tempat yang indah penuh cinta, “Andai saja, aku
bisa disini bersama Dave, meneguk kopi manis ini bersama di dekat Eiffel, itu
romantis pasti, apalah kau ini Chey, khayalan saja”, aku senyam-senyum sendiri
di sana, orang-orang mulai melihatku keheranan, sampai ada suara yang tak begitu
asing di telingaku, aku menoleh dan ini rasanya mimpi!
“Kamu disini bersamaku Chey, bukan mimpi”, senyuman manis Dave bersinar di hadapanku,
kopi panas itu kini seakan menjadi dingin, tubuhku dipenuhi keringat dingin
yang menetes, aku seperti membeku, aku tak percaya menatap mata biru itu lagi,
kini yang kulakukan hanya selangkah di depannya dan sangat ingin kukatakan aku
merindukanya sungguh, tapi mulut ini membeku juga. “Tenang Chey, aku tak
akan pergi lagi kali ini, aku janji akan terus disamping mu? Kenapa kamu ke
Perancis Chey?. “Ya,, yah aku nomaden Dave, kamu tau tentunya. Kenapa kamu bisa
menemukan ku? Ini jauh sekali Dave”. “Yah, Dan Loir meramal mu, dia bilang kamu
sedang ada disini, kamu tau kan Dan Loir punya kemampuan seperti kita, dia bisa
membaca, tapi hanya pada orang-orang yang dia rasa dekat dengannya, seperti aku
dan kamu Chey”. “Oh ya, tapi kenapa kamu kesini sendiri? Mana Dan Loir, tak
kauajak sekalian beliau, kangen aku dengan kelembutan hatinya”, muka Dave lesu,
wajahnya tertunduk lemah, “Begini Chey, Dan Loir sudah meninggal 2 tahun yang
lalu, sebelum berhembus nafas terakhirnya, Dan Loir berkata kalau aku harus
mencari mu sampai kesini, ini sudah suratan Chey”. “Padahal aku belum
berterimakasih padanya Dave, aku masih ingin bertemu pak tua berhati emas itu,
tapi sudahlah, semua sudah berlalu untuk apa kita terus berlarut-larut menatapi
kesedihan ini”, Dave tersenyum, “Kalau begitu kita lanjutkan sore ini,
berjalan-jalankah?”. Sore itu kuhabiskan bersama Dave hingga petang hampir tiba,
Dave mengajakku mengunjungi ayah ibuku di tempat tinggal mereka, lalu mereka
sangat menyukai Dave, aku diijinkan orangtua ku menikah di usia ku yang sudah
24 tahun, dan usia Dave yang sudah 29 tahun, lalu aku kembali lagi ke Perancis
merajut cinta setia ku bersama Dave.
Tak pernah kusangka, semua manusia
punya cobaan yang berat dalam hidupnya, terutama saat mereka akan dipertemukan
dengan jodohnya yang selama ini berada sejengkal dari kehidupanya, aku temukan
rasa cinta yang dalam meresap di dalam dada, tak pernah sekalipun aku bisa
membaca rahasia yang ada di dalam mata orangtua ku dan Dave, lautan yang
bersinar dari mata Dave begitu menenangkan jiwaku, ombaknya membawaku pergi
jauh menuju angkasa, dengan pelangi yang indah dan lembutnya awan-awan di mega,
intinya aku tau sekarang bagaimana mengendalikan diriku dari kemampuan ku yang
berbahaya ini, aku harus belajar mencintai setiap manusia dan perkataannya, tak
boleh tersinggung sedikitpun walau kadang perihnya menyayat hati bagai teriris
sembilu, aku tau bersama Dave itu tenang, seperti menanam kan biji cinta yang
lama-kelamaan tumbuh dan berkembang menjadi rasa kasih yang luar biasa, antara
kami, tak pernah ada kata berjauhan, kami selalu bersama bagaikan kancing dan
baju, jahitannya mengeratkan kita berdua, setiap pagi hanya ada senyum bak
embun pagi yang menetes di pelupuk jiwa, kini separuh jiwaku yang hilang
kembali terisi dengan adanya Dave disampingku, tenang. Bagiku David Dominico
itu hanya satu kata. SEMPURNA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar