Minggu, 13 September 2015

Love story


HearT BreaK

A

ku tak pernah membayangkan kalau akhirnya jadi seperti ini....

Kami bertiga memang sudah bersahabat sejak SMA, hingga sekarang kuliah pun, kami bertiga juga masih bersama, ada aku, Hans, dan Kira. Saat itu Bulan Februari, matahari benar-benar membakar ubun-ubunku, rasanya aku ingin minum, minum, dan minum lagi, seperti kebiasaan kami, pulang dari kampus segera ke warung bakso dan berceloteh tak jelas, apalagi Kira, dia selalu saja membicarakan tentang laki-laki yang ganteng dan apalah. Tapi baik aku maupun Hans akan selalu mendengarkan cerita gadis mungil itu seksama, kadang-kadang ceritanya lumayan unik, aku hanya tersenyum dan merapatkan bibirku saat ia bercerita.  “Hei, kemarin gue liat Jack, biasa mangkal di tempat anak-anak gaul, gila keren banget”, kata Kira bersemangat, “Hah Jack, lo pikir Jack itu keren, masih keren gue juga kali Kir”, Hans menggoda. Rasanya, Hans itu punya seribu perasaan terpendam pada Kira, tapi mana bisa ia sampaikan, Hans bukan lelaki yang pemberani, ku pikir ia hanya laki-laki yang pemalu tapi banyak akal, kulihat dari sorot matanya, dia tipikal cowok yang setia dan mungkin akan sangat protektif pada pacarnya, tapi kita juga sudah bersepakat bahwa hanya akan ada persahabatan diantara kita. Malam itu bulan nampaknya malu-malu nongol di langit, bintang-bintang juga gak ada yang mau menari dan berkedip sedikitpun pada hatiku ini, aku di telfon Hans, biasa, kami punya tugas kuliah yang menumpuk, akhirnya berangkatlah aku ke perpustakaan umum, cukup malas juga untuk beranjak dari istana kapuk ku ini, tapi mau apalagi, ini memang sudah kewajibanku.

“Hans, lo udah nunggu lama, sori ya, gue tadi harus nambal ban mobil gue, masalahnya kena paku di jalan”, sambil menahan nafasku yang terengah-engah, “Santai aja kali, Na, gue gak terlalu lama kok disini, ya kira-kira 20 menit-an lah”, kata Hans sambil tersenyum ikhlas tanpa dendam di raut wajahnya yang mulus itu. Aku memang tak pernah menyangka punya teman laki-laki seperti Hans, baik hati dan orangnya easy going banget, tapi entah kenapa, aku tak pernah punya perasaan yang lebih soal Hans, mungkin ini pengaruh kalau aku sudah tau Hans memang suka sama Kira. “Hans, gue tadi telfon Kira, kok hp nya gak aktif ya, coba deh, lo telfon dia, kan kasian kan”, kataku membujuk nya, aku juga sedikit menggodanya, kuberi ia kode, tapi seperti biasa, Hans tak pernah peka padaku. “Hah, gg...gue? Lo aja deh, Na, kan sama-sama ceweknya, tapi yaudah deh”, mulut Hans begitu kaku saat menerima jawaban telfon dari Kira, tapi tak seperti yang kuharapkan, Kira malam ini tak bisa datang dan bergabung dengan kami berdua, lebih kecewa lagi, ibunya yang menerima pesawat telfon Hans, akhirnya kita hanya bisa mencari buku berdua, tanpa Kira, sampai-sampai, entah aku atau Hans tak ada yang sadar, saat itu jam menunjuk pukul delapan, kiranya aku sempatkan untuk menyatakan suatu perasaan rahasia pada Hans, tapi saat kulihat, Hans begitu sulit untuk membuka kedua matanya, akhirnya, ku urungkan niat ku untuk bertanya. “Hans, Hans, lo ngantuk, udah ayo pulang aja, gue yang anter lo, santai aja, mobilnya kan bisa lo titip in disini”, sambil kugoyangkan bahunya, Hans sedikit terpental, mungkin ia kaget. “Okedeh, Na, makasih ya, gue juga gak tau ni, kenapa ngantuk bener, gak biasanya”, kata Hans sambil menguap beberapa kali. Setelah itu, kuantar Hans sampai halaman rumahnya, kebetulan, malam itu ibunya sudah pulang bekerja, aku bisa bersalaman dengan ibunya, mama Hans memang orang yang sangat sibuk, maklum, Hans sebagai anak saja hanya bisa bertemu ibunya dalam waktu terbatas, apalagi aku. Mama Hans tau kalau aku ini Ariadna, jadi tak perlu ragu untuk membukakan pintu dan mengulurkan tangannya untuk kusalami, setelah ada perbincangan cukup lama, aku akhirnya pulang karna besok pagi aku juga harus mengantarkan Hans ke perpustakaan lagi, malam ini begitu syahdu, anginnya bertiup kencang tanpa ada henti, kutarik jaketku dari kursi tamu mama Hans, aku pulang dan aku tak ingat apapun setelah itu.

            “Ariadna.... Ariadna .. bangun nak, sudah jam berapa ini”, suara ibu samar-samar terdengar di telingaku, aku sedikit marah, karna ibu memberai cerita apik di mimpiku, tapi, setelah aku terbangun, aku seperti tersetrum, jam beker ku menunjuk di angka enam lebih sepuluh, kubuka selimut, dan mandi, pagi itu aku benar-benar tutup mata dengan keadaan rumah, aku langsung berpamitan pada ibu dan bergegas ke rumah Hans.

“Hans, sori, gue ngaret nih, gue lupa bakal jemput lo”, nadaku pelan menyimpan rasa malu yang luar biasa, karena aku bangun terlambat. “Udah gapapa, Na, langsung tanjak aja, anter gue ambil mobil di perpustakaan”, kami berdua berangkat ke perpustakaan terburu-buru karena ulahku tadi pagi. Sampai di kelas, aku tak melihat wajah Kira, aku mulai bingung dengannya sekarang, dia jarang berkomunikasi dengan aku maupun Hans. Setiap pulang, aku merasa sepi tanpa adanya Kira, makan bakso pun tak enak rasanya, tak ada yang mau bercerita lagi soal Jack atau wanita penjual bunga di seberang rumah Kira, entah ini perasaanku atau memang benar, mungkin Kira lagi bermasalah.

“Hans, gue gak liat Kira seharian ini, lo liat gak?”, “Gue juga nggak, Na, malah gue pengen tanya ke lo lagi, gue coba telfon, gak aktif juga”, kalau soal telfon, aku jadi ingat sesuatu perasaan rahasia yang ingin kutanyakan pada Hans, “Hans, gue mau tanya sama lo”, tanyaku dengan sangat penasaran, kulihat dahi Hans yang mengernyit seakan aku menginterogasinya, “Oke, lo mau tanya apa, kok penting banget gitu, Na” Hans makin bingung. Aku menghela napas cukup panjang saat ini, aku langsung melemparinya pertanyaan yang panjang, “Hans, lo suka kan sama Kira? Lo jujur aja deh sama gue, lo santai aja, lagipula gue tanya gini bukan karna gue suka sama lo, lo ngerti kan, gue udah punya, kalo emang lo suka sama doi, lo langsung aja kasih dia pilihan, terima atau tolak, lo jangan malu-malu dong Hans, justru itu kesempatan lo”, kataku membujuk dia, aku menyimpan seribu teka-teki di hati, aku ingin melihat sahabat lelaki ku ini jujur terhadap perasaannya padaku,  tapi Hans sedih, matanya seakan melampiaskan sebuah emosi, aku yang menatapnya dalam-dalam ingin memeluk tubuhnya yang lemas, betapa tidak, dia hanya lelaki yang kalem, tak banyak pembicaraan, tapi begitu tersiksa dengan wanita yang boleh aku katakan, playgirl, maksudku Kira, tapi tanpa basa-basi lagi, Hans menjawab lirih, dia seperti berbicara dengan orang lain. “Guuu..gueee sebenernya suka sama dia udah lama, Na, tapi gue egois dan gak pernah dengerin perasaan gue sendiri, gue ini lemah, gak gentle, gue gak berani ungkap. Udah lah, Na, gue gak mau coba-coba nyatain apapun ke Kira sedikitpun itu, lo tau kan gimana Kira, pasti dia masih suka sama Jack”, Hans menjawab lemah dan penuh kecewa, aku yang sedari tadi menunggui jawaban gila nya mulai emosi dan bosan, akhirnya, kita berdua pulang dan sampai di rumah kurebahkan tubuhku yang letih diatas kasur, tapi tak lama kemudian ada telfon masuk.

            “Halo”, aku menunggu respon si penelefon cukup lama, “Hh..halo Ariadna, ini aku Vicko”, aku begitu girang, letih dan apapun yang menggelayuti tubuhku hilang, benar-benar aku merasa enteng. Itu Vicko, cowokku, pandai, saat ini dia studi di Australia, setahun ini dia tak pulang, aku begitu kangen luar biasa pada Vicko, dalam satu tahun belakangan, jarang dan hampir tak pernah aku saling berkomunikasi lagi. “Iiiyayaaaaaa...... Vicko, sumpah, aku kangen banget sama kamu”, aku seperti merekat dengan telefon genggam ku saat aku mendengar Vicko berbicara. “Kalau kangen, sekarang kamu keluar dan ayo ke taman, jangan lama-lama, masalahnya aku udah di depan gang rumahmu”, kata Vicko sambil tertawa kecil. Aku yakin, Vicko pasti akan mengajakku ke Taman McLand, ini taman dimana aku dulu bertemu dengan Vicko si pemuda yang baik hati, yang mau menolongku mengambil buku IPA ku yang terjatuh di selokan saat aku masih SMA.

Lukisan warna oranye masih menghiasi langit yang cerah ini, matahari masih mendampingiku, mendung yang terbang serasa membukakan jalan bagi ku untuk menemui Vicko.  Tanpa berpikir lagi, aku langsung berpamitan pada ibu dan wajah Vicko yang berseri mulai menghampiriku, rasanya mulut ini begitu terkunci dan kuncinya hilang entah kemana saat dia mulai melebarkan mulutnya untuk memberiku senyum manisnya. “Vicko, aku hubungi Hans sama Kira dulu ya, kamu udah pernah aku kenalin kan?”, “Hah? Belum lah, asing bener namanya”, Vicko tersenyum, “Kalau belum yaudah aku kenalin deh”, aku menunggui jawaban telfon dari Hans cukup lama, “ Halo Hans, ajak Kira ke taman McLand ya, aku pengen kenalin kalian ke seseorang, jangan lupa Kira”, tanpa ada penolakan Hans mengiyakan permintaanku.

            Hans datang, tapi aku belum melihat Kira, mungkin dia absen lagi, huh, aku sebenarnya ingin mencomblang kan dia dan Hans sore ini juga, tapi apa boleh buat, sepertinya Kira bener-bener gak datang, tapi aku salah, Kira datang membuntuti Hans. Mukanya terlihat berbeda hari ini, tapi Hans langsung mengakrabkan diri pada Vicko. “Hei, lo Vicko?”, Hans bertanya dan menaikkan alisnya, “Iya bro, ini gue, Ariadna banyak cerita soal gue pasti”, mereka berdua akrab, maklum sama-sama laki-laki, kita berempat menghabiskan sore yang indah itu bersama, karena besok pagi Vicko harus terbang lagi ke Australia, aku sedih tentunya.

            Esoknya di malam hari, aku, Hans dan Kira harus ke perpustakaan lagi, malam itu gerimis mendatangi kami bertiga, ah, baru kali ini ada gerimis, untungnya di malam gerimis ini Kira mau ikut, tapi aku melihat kejanggalan di mukanya, dia begitu kosong dan tak berkata sepatah kata pun padaku maupun Hans, kami berdua hanya bisa diam dan saling penasaran, akhirnya daripada aku penasaran kutanyakan padanya. “Kir, lo sakit ato gimana sih, daritadi lo diem gak ngomong apa-apa ke kita”. Kira berdiri, dan seperti orang bingung, “Gue pulang aja deh Hans, Na, gue gak enak badan nih, tapi tenang aja, gue udah order taksi kok, kalian gak usah anterin gue. Bye, thanks buat undangan belajar nya”, tapi sebelum aku mengijinkan dia untuk pulang, dia langsung berlari seperti maling yang ketauan mencuri. Akhirnya, selalu saja menghadirkan ending yang aneh, hanya aku dan Hans yang disini membuka-buka buku dan mulai menulis pekerjaan rumah. Sampai hujan grimis itu menjadi deras dan reda lagi, kami pulang.

            Sebulan.. dan dua bulan, aku tak pernah tau kabar Kira, begitupun Hans, kami berdua memang sangat sibuk dengan tugas-tugas yang menumpuk, sampai-sampai aku ingat Kira, aku tak basa basi, aku menuju ke rumah Kira berdua dengan Hans untuk menanyakan bagaimana kabarnya, hal ini yang membuatku begitu gila saat aku sampai disana. “Assalamu’alaikum, Tante Rina... Tante... Tante..... Hans, kok pintu nya gak dibuka-buka ya, kenapa sih?”, setelah aku ingin mengetuk pintu untuk keempat kalinya, pintu itu terbuka, cahaya matahari masuk kedalam rumah itu hanya sedikit, rumah Kira sekarang begitu pengap dan aku tak merasakan hawa ceria di rumah itu, sampai-sampai dari kejauhan aku lihat bayangan seorang wanita yang putus asa wajahnya membawakan kami secangkir teh yang hangat, itu ibu Kira. “Nak, kalau kalian mau mencari Kira, bukan disini lagi, dia sekarang ada di Rumah Sehat.”, mata Tante Rina berkaca-kaca, air mata yang awalnya masih bersembunyi di balik mata itu akhirnya menetes dan lama-lama menjadi deras, aku juga tertegun dengan pernyataan itu, Hans pun terperanjak dari duduk malasnya. “Apa? Rumah Sehat kan rumah sakit jiwa, maksud tante apa ini, Kira bekerja disana atau siapa yang gila?”, jantung ku berdebar secepat apapun itu, Hans juga tak bisa berkata apa-apa, kami berdua begitu kalut dan sedih saat Tante Kira bilang kalau yang gak waras itu Kira, padahal dua bulan lagi, kita akan lulus dan aku membayangkan kita akan bekerja bersama-sama di rumah sakit sebagai dokter bertiga lagi, tapi itu lebih seperti mimpi mustahil, tubuhku ini seperti di terbang-terbangkan, otakku ingin pecah, mataku perih dan ingin meledak, satu persatu tulang rusukku melayang-layang dan rapuh, seperti dipatahkan, rasanya ada yang hilang dalam hidupku, aku begitu bodoh, meninggalkan sahabatku yang butuh diriku disaat dia sedih, tapi aku justru menghilang, aku pukul Hans, tapi Hans juga tak menghiraukan pukulanku, kita seperti di terkam, tanpa berpikir lagi, aku dan Hans pergi ke Rumah Sehat. Sore itu benar-benar suram, hujan deras dengan angin yan mengombang-ambingkan perasaan ku dan Hans tak mau berhenti. Hans begitu kaget dan terpukul, aku yang menyetir mobilnya terasa tak kuat memutar stang bundar itu, aku melihat raut wajah yang benar-benar mati, tak ada rasa percaya dan apalah itu, mungkin Hans merasa bahwa itu adalah wanita yang dicintai dan benar-benar di cintainya, kira-kira 15 menit lagi aku sampai.

            Disana suasananya begitu haru, saat aku memasuki ruangan di lantai 4, aku bertemu Dokter Feri, dia sangat ramah dan mau menjelaskan padaku, bagaimana keadaan Kira saat dibawa kemari, dokter bilang bahwa Kira selalu mencari dan menyebut nama Riko, aku tak pernah percaya kalau selama ini Kira sudah punya pacar, lagipula bagaimana aku bisa menerka apa yang akan terjadi, aku bukan seorang peramal yang hebat, kalau aku bisa meramalkan apa yang akan terjadi pada Kira saat ini, aku tak mungkin diam saja, sayang aku hanya gadis biasa yang mungkin lemah, tapi memang kita bertiga sama-sama sibuk dan tak bisa berkomunikasi lagi. Aku masuk ke kamar itu, tepat nya kamar 24, aku melangkahkan kaki ku perlahan dan penuh perasaan, dan saat kulihat gadis mungil di pinggir kasur, aku mulai menghampirinya. “Hai, Kira, aku dateng sama Hans, kita berdua sayang sama kamu Kira, maafin aku kalau selama ini aku gak mau peduli sama kamu lagi, ayolah Kira, sembuh ya, dua bulan lagi kan kita lulus, oke”, air mataku menetes, sebenarnya aku tak mau meneteskan air mataku, tapi mataku begitu pedih, sambil sesekali aku menyeka air mataku dan mengelus dadaku yang sakit ini.

 

 “Riko.. Riko.. Riko.. kapan pulang..”, aku kaget, kuusap air mata yang menetes di pipi ku, aku dan Hans sama-sama terkejut mendengarnya menyebut nama lelaki misterius itu, dokter memang tak berbohong padaku bahwa Kira memang gila karena lelaki itu, aku harus aku temukan, aku tak pernah rela melihat sahabatku yang begitu jatuh seperti ini, aku berbicara lama dengan Dokter Feri saat itu, aku seperti seorang detektif yang mengeruk berbagai informasi soal masalah Kira, tapi sama saja, hasilnya nol besar, aku tak dapat informasi apapun soal Kira. Dokter menyarankan ku untuk melihat hasil perkiraan kondisi Kira, disitu ada tulisan diagnosa dokter, bahwa Kira itu trauma atas sebuah perasaan, mungkin cinta. “Saya benar-benar baru melihat gadis yang se muda ini merasakan sakitnya cinta, Nona Ariadna, tapi ini masih tahap penyembuhan dan masih diagnosa, hanya satu yang mungkin bisa menyembuhkan, yaitu Anda sebagai sahabat”, Dokter Feri tersenyum, saat ini aku tak bisa membalas senyumnya. Aku murung, aku tak pernah berbicara sepatah kata pun pada Hans di perjalanan pulang kami.

            Siang hari, kuurungkan niatku untuk ke perpustakaan umum, aku membicarakan masalah Kira dengan Hans, aku menanyakan pada Hans soal teman-temannya, tapi Hans tak pernah punya nama teman Riko. Aku ajak Hans ke rumah Kira untuk mencari informasi, tapi Hans menolak ajakan ku, mungkin dia sudah menolak tawaran ini dua kali, saat ku sms dulu. Tapi, malam itu dia kuajak ke perpustakaan, dia menyanggupi, aku muak dan emosi dengan Hans. “Hans, lo kenapa selalu nolak kalo gue ajak lo ke rumah Kira, dia sahabat kita kan Hans, bukan berarti dia gila, trus kita langsung tinggalin dia kan, lo gak boleh egois gini dong Hans”, aku emosi berat saat itu, ingin kutampar Hans dengan tanganku, tapi aku tetap diam, “Gue bukannya gak mau bantu, Na, tapi..”, Hans terlihat melepaskan tanggung jawab pada sahabatnya sendiri, tanpa berkata apapun, aku langsung mengangkat tas ku dan kubawa buku-buku pr ku, kutinggalkan Hans yang terlihat sangat bodoh hari ini.

            Sebulan setelah dari Australia, Vicko kembali lagi ke Indonesia, mungkin dia ada rehat kira-kira 3 minggu,  kuceritakan segala perasaan sedih yang mendera hatiku saat ini, tentang Kira ataupun Hans, Vicko mendengarkanku dengan tenang dan penuh resapan, mungkin dia tidak ingin wanita yang dikasihinya sedih dan terpaku dalam keadaan seperti ini. “Aku curiga sama Hans, Vick, dia itu kaya gak mau peduli sama Kira ataupun perkataanku lagi, dia selalu nolak tawaranku kalo aku ngajak dia buat pecah in teka-teki lelaki itu, si Riko”, aku mengeluh dan mengeluh pada Vicko. “Yaudah yang penting kamu jangan terlalu obsesif dengan masalah Kira, dua bulan lagi kamu kan lulus, udah fokus sama itu aja, percaya, Hans itu cuma lelah soal ini semua”, Vicko tersenyum dan aku luluh akan senyumnya yang begitu menenangkan hatiku. Dia mengantarkan ku ke kampus untuk pertama kalinya.

Siang itu aku tak melihat Hans, tak seperti biasanya dia menghilang seperti ini, aku sudah mulai merasakan satu persatu bagian tubuhku hilang, saat Hans juga ikut menghilang, aku sebenarnya ingin mengajak Hans ke rumah Kira untuk ke berapa kalinya aku sudah tak peduli, tapi hp nya off off dan off.. Aku curiga soal Hans, betapa tidak, saat Kira tak waras dan dia menjadi aneh, justru Hans menghilang seperti dialah yang selama ini menjadi lelaki misterius dalam hidup Kira, tapi aku lupa satu hal, Vicko, langsung saja kuhubungi dia. “Hallo, Vick, kamu mau kan temenin aku ke rumah Kira, plis aku butuh bantuan kamu saat ini”, aku memohon dan “Ya”, Vicko mau mengantarku.

            Aku masuk ke dalam kamar Kira, kulihat kamarnya memang masih sangat rapi, dalam bersahabat, kami bertiga memang belum pernah berkunjung sampai ke dalam kamar, jadi aku masuk sendirian kemari, kubuka tiap-tiap celah almari nya, tapi tak pernah kutemukan apapun, sampai aku hampir menyerah, pandanganku tertuju pada handphone Kira diatas meja, saat kubuka, aku benar-benar terbelalak, mataku rasanya ingin copot, Riko, di sms itu memang ada contact Riko, aku juga menemukan sebuah bingkisan rapi yang ada di pojok meja belajarnya, itu seperti kado ulangtahun, karena 3 hari sebelum Kira masuk rumah sakit jiwa, dia ulangtahun, tapi aku tak peduli dengan kado itu, aku hanya peduli dengan isi sms itu yang menyatakan bahwa dia khawatir akan hubungannya yang lama-kelamaan bisa saja terbaca olehku atau Hans .

“Rik, gue takut kalau gue ketauan sama temen-temen gue, lo kapan balik sih, gue gak tau gimana lagi, gue gak bisa hidup kaya gini, Rik”, itu sms yang dikirim Kira buat Riko, tapi aku masih bingung, apa maksudnya balik, memang Riko itu orang mana, setau ku yang punya pacar sibuk yang bolak-balik luar negri cuma aku, ah aku kesal, aku menaruh curiga pada dua lelaki, entah itu Hans atau Vicko, aku mulai muak dengan perasaan ku ini.

            Aku keluar dari kamar Kira, tapi kusimpan rahasia soal sms itu, Vicko pun menanyakan padaku penuh penasaran, “Gimana, Na, ada clue?”. “Gak kok, Vick, pulang aja, aku capek banget”, aku serasa tak pernah bisa memaafkan diriku ini, aku sedih, emosi, penuh dendam, dan aku lemah soal ini. Perasaan ku masih janggal soal kamar Kira, ada sesuatu yang tak bisa ku tinggalkan begitu saja, ada petunjuk lain barangkali aku tak menemukan itu, di sepanjang perjalanan, aku hanya bisa terdiam karna perasaan ku yang sungguh bercampur aduk

Kuulang lagi untuk pergi ke rumah Kira esok harinya, aku benar-benar tak pernah mau menyerah, tapi kali ini tanpa Hans maupun Vicko, mungkin dengan kedatangan ku sendiri, aku tak perlu lagi berbohong dan sedih saat melihat orang lain menanyaiku, dan aku mulai membuka apapun yang dapat dibuka, mulai dari almari, tempat aksesoris, atau tempat sampah yang ada di pojok kamar, ternyata benar, belum 30 menit aku mencari, aku temukan buku diary Kira disamping tempat tidur, buku itu jatuh diatas lantai, kubuka buku diary gembok itu dengan perlahan, air mataku menetes dan tak mau berhenti, ada foto kami bertiga saat masih SMA sampai saat kami berlibur ke pantai, sampai kubuka halaman terkahir, kuusap air mataku, dan kuresapi tulisan tangannya yang lembut, tulisan itu sungguh menekan hatiku sampai dalam.

“Aku bertemu Riko saat sebelum aku dan dua sahabatku bertemu di taman sore itu, dua hari sebelum menemui Ariadna, pagi hari di depan rumah penjual bunga, Riko memberiku bunga, kita memang saling suka, aku tau hubungan ini memang sangat terlarang, tapi aku benar cinta padanya, padahal aku tau, bahwa dia itu pacar sahabatku sendiri, aku ingin mati, aku tau dia itu Vicko, tapi aku akan sembunyikan dia dalam nama Riko, biarkan aku sembunyi dari Hans dan Ariadna, aku sahabat khianat!”

Aku menekan dadaku sangat kuat dan memejamkan mataku sampai semua nya terlihat begitu gelap, hatiku seperti ditusuk tombak yang runcing, seperti disayat dengan pisau bermata dua, aku ditusuk mereka berdua dari belakang, aku begitu sayang pada Vicko, tapi justru dia berbalik memberiku sebuah pengkhianatan yang luar biasa perih, apalagi Kira yang begitu memukul perasaan ku begitu dalam. Aku keluar dari rumah Kira dengan rasa yang cukup lega, karena semua ini sudah terjawab.

Sore hari setelah petualanganku yang melelahkan, Vicko menanyaiku “Sayang, kamu mau jenguk Kira gak malem ini, mendingan gak usah aja ya, aku yakin kamu capek kok, bye”, aku curiga dan sangat curiga, tapi aku menjebak Vicko yang kelihatannya akan melakukan apalah itu malam nanti, aku balas sms nya. “Aku emang capek banget, aku lagi males nih kemana-mana, capek tadi habis pergi bareng Hans”. Akhirnya Vicko memberikan emot tersenyum pada sms nya, aku bisa membaca, Vicko seperti anak kecil yang kubohongi, karna kuturuti rencananya yang aku pun tak pernah tau.

Tapi sekarang aku memang harus bergantian untuk membodohi Vicko, tanpa Hans, aku berangkat ke Rumah Sehat sendirian, tanpa rasa takut atau apapun itu, tapi sampai disana, Dokter Feri melarangku untuk masuk ke dalam ruangan Kira yang ternyata sudah diipindah ke lantai 8, aku mulai curiga, ada sesuatu disini, tapi aku cukup tenang, saat dokter itu pergi, aku menyelinap dan masuk, dan itu benar-benar gila, Vicko ada di dalam kamar Kira, dan dia mengancam Kira dengan sebilah pisau, aku benar-benar terkejut, aku tak mau berkedip dan tak bisa membiarkan mataku ini untuk bisa terpejam, tapi itu mustahil. Vicko berbalik kehadapanku, dia begitu kaget dan sedikit marah, akhirnya kuutarakan semua perasaan

dan segala hal yang kutau soal hubungan terlarang keduanya. “Vicko, saat kamu di Australia, aku gak pernah curiga sama kamu soal kamu ada hubungan dengan siapa aja, aku selalu percaya bahwa kamu itu disana cuma mau menimba ilmu, kamu juga bilang ke aku kalau kamu percaya aku juga gak ada apa-apa sama laki-laki manapun, tapi kamu malah khianat, kamu bohong dan buat temenku jadi gila, maksudnya apa ini, aku itu kurang apa sih Vick?”, aku tak pernah bisa mengehentikan dan benar benar tak bisa menghentikan air mataku, tapi aku benar-benar kaget saat dia mengancamku dengan pisau nya dan ditodongkannya ke leherku, aku benar-benar sudah tak tau harus apa lagi, dia juga mencoba mencari kesalahanku. “Aku tau kamu itu bilang kalau kamu gak akan pernah mengkhianatiku, tapi aku jealous sama Hans, Kira cerita kalau Hans itu bener-bener deket sama kamu, aku itu tau pasti lama-lama akan ada perasaan cinta juga, kamu itu bodoh Ariadna, jangan kamu terka kalau selama ini aku dan Kira diam itu tidak ada apa-apanya”, dia mengatakan itu dengan emosi, aku hanya terdiam dan menangis, Hans tak ada disini, tapi Vicko begitu dendam padaku, dia benar-benar ingin menggorokku, aku berteriak kencang, dan  “Ariadnnaaaaaaaa.......”, suara Hans yang panjang memanggilku. Dia datang dengan tepat. “ Vicko, Vicko, lo gila bro, itu pacar lo sendiri, lo gak punya hati”, Hans datang dan melarang Vicko melakukan hal gila itu, aku begitu lega melihat sahabatku itu yang awalnya kukira ia jahat ternyata ia adalah pahlawan, tapi aku benar-benar takut saat mereka bertengkar, akhirnya Kira mau menghentikan itu. “Sudah Hans, kamu lebih baik jaga Ariadna baik-baik ya, maafin aku Ariadna, aku berkhianat”, Kira menangis dan sangat menyesal akan hal itu, tapi aku justru hanya terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, tapi sungguh, aku sebenarnya memaafkan Kira, tapi aku tak bisa memaafkan Vicko.

 “Hai, kalian berdua yang bodoh, aku akan menghancurkan persahabatan kalian bertiga, biarkan ini semua hilang. Memang kalian kira, wanita gila ini akan menjadi teman kalian”, Vicko mengancam akan lompat dari jendela bersama Kira, aku melarangnya tapi Kira justru berkata lain. “Hans, Ariadna, biarkan aku pergi, aku kan sudah berkhianat dengan kalian berdua, bodohnya aku ini yang tak bisa menghargai sahabatku sendiri. Aku juga minta maaf padamu Hans, aku sudah menolak cinta tulusmu itu secara kasar berulang kali, aku ini sombong dan bodoh, Hans”. “Aku tak pernah bisa memaafkan diriku sendiri kalau aku gak bisa memaafkan kamu, oke kan, ayo sekarang kamu ikut aku sama Ariadna, kita kuliah bareng lagi dan makan bakso bareng lagi, ke perpus bareng lagi, jadi dokter bertiga lagi”, Hans mengulurkan tangan persahabatan yang tulus itu ke arah Kira. Akantetapi, aku benar-benar tak pernah menduga ini, Vicko melompat dari jendela, dia juga menarik kain putih halus yang dipakai Kira, Vicko dan Kira bunuh diri, mereka melompat dari jendela bersama, aku berteriak kencang dan rasanya juga ingin melompat bersama mereka, “Tidaaaaaaaaaaaaakkkkkk....... Vicko, Kira, gue maafin lo berdua”. “Udah lah, Na, mereka itu salah, biarin, lagipula mereka pasti udah mati, dengerin gue, gue minta maaf, soalnya dulu gue gak mau bantu lo itu, gue mau buktiin kalo mereka berdua emang pacaran, ini fotonya”, Hans menunjukkan foto mereka berdua yang mesra itu, ah, perasaan ku kalut, kusobek-sobek foto itu, kututup mataku dan aku pulang. Esok harinya, aku mengadiri pemakaman keduanya bersama Hans, aku benar-benar tak pernah tau kalau hidupku begitu gila.

Tiga tahun aku menikah, tiga setengah taun aku lulus dan bekerja, dan empat tahun setelah kejadian itu, aku membuka album foto merah muda, aku menangis, disitu ada fotoku dulu saat masih kecil, foto awal remaja ku, dan foto-foto masa mudaku dulu saat bersama 2 sahabat ku, aku benar-benar punya pengalaman yang begitu berharga dalam hidup ini, tak pernah kubayangkan sebelum-sebelumnya kalau akan seperti ini.

Suara kecil yang samar membisiki telingaku, “Bunda, ini foto bunda sama sahabat bunda ya?”, itu Eames Art, anakku, aku sadar sekarang aku punya tanggung jawab yang lain selain dokter, yaitu menjadi seorang ibu. “Iya sayang, ini namanya Tante Kira Versley, tapi sudah meninggal, dan ini Bunda”, sambil berkata aku tunjukkan fotoku dan Kira saat dulu di pantai. “Kalau ini siapa Bunda? Ayah ya?”, saat aku akan membuka mulutku, ada tangan yang menutup album itu dari belakang, sambil ia memegang tanganku dengan erat, yaitu Hans, sambil menggenggam tanganku, ia berkata, “Ya Eames, itu ayah, dulu Ayah dan Bunda itu sahabat karib. Kalau kamu besar nanti, cari teman seperti bunda ya, yang cantik, baik, gak pernah marah lagi”, Hans tersenyum, aku dan Eames juga ikut tersenyum bahagia. Ya, aku Ariadna Francso, aku adalah istri Hans Elvras Jeff. Sekian kisahku, ini sebuah pengkhianatan yang dibalas dengan seribu kebahagiaan bersama keluarga kecilku.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar