HearT BreaK
|
A
|
ku
tak pernah membayangkan kalau akhirnya jadi seperti ini....
Kami bertiga memang sudah
bersahabat sejak SMA, hingga sekarang kuliah pun, kami bertiga juga masih
bersama, ada aku, Hans, dan Kira. Saat itu Bulan Februari, matahari benar-benar
membakar ubun-ubunku, rasanya aku ingin minum, minum, dan minum lagi, seperti
kebiasaan kami, pulang dari kampus segera ke warung bakso dan berceloteh tak
jelas, apalagi Kira, dia selalu saja membicarakan tentang laki-laki yang
ganteng dan apalah. Tapi baik aku maupun Hans akan selalu mendengarkan cerita gadis
mungil itu seksama, kadang-kadang ceritanya lumayan unik, aku hanya tersenyum
dan merapatkan bibirku saat ia bercerita. “Hei, kemarin gue liat Jack, biasa mangkal di
tempat anak-anak gaul, gila keren banget”, kata Kira bersemangat, “Hah Jack, lo
pikir Jack itu keren, masih keren gue juga kali Kir”, Hans menggoda. Rasanya,
Hans itu punya seribu perasaan terpendam pada Kira, tapi mana bisa ia
sampaikan, Hans bukan lelaki yang pemberani, ku pikir ia hanya laki-laki yang
pemalu tapi banyak akal, kulihat dari sorot matanya, dia tipikal cowok yang
setia dan mungkin akan sangat protektif pada pacarnya, tapi kita juga sudah
bersepakat bahwa hanya akan ada persahabatan diantara kita. Malam itu bulan
nampaknya malu-malu nongol di langit, bintang-bintang juga gak ada yang mau
menari dan berkedip sedikitpun pada hatiku ini, aku di telfon Hans, biasa, kami
punya tugas kuliah yang menumpuk, akhirnya berangkatlah aku ke perpustakaan
umum, cukup malas juga untuk beranjak dari istana kapuk ku ini, tapi mau
apalagi, ini memang sudah kewajibanku.
“Hans, lo udah nunggu lama, sori
ya, gue tadi harus nambal ban mobil gue, masalahnya kena paku di jalan”, sambil
menahan nafasku yang terengah-engah, “Santai aja kali, Na, gue gak terlalu lama
kok disini, ya kira-kira 20 menit-an lah”, kata Hans sambil tersenyum ikhlas
tanpa dendam di raut wajahnya yang mulus itu. Aku memang tak pernah menyangka
punya teman laki-laki seperti Hans, baik hati dan orangnya easy going banget, tapi entah kenapa, aku tak pernah punya perasaan
yang lebih soal Hans, mungkin ini pengaruh kalau aku sudah tau Hans memang suka
sama Kira. “Hans, gue tadi telfon Kira, kok hp nya gak aktif ya, coba deh, lo
telfon dia, kan kasian kan”, kataku membujuk nya, aku juga sedikit menggodanya,
kuberi ia kode, tapi seperti biasa, Hans tak pernah peka padaku. “Hah,
gg...gue? Lo aja deh, Na, kan sama-sama ceweknya, tapi yaudah deh”, mulut Hans
begitu kaku saat menerima jawaban telfon dari Kira, tapi tak seperti yang
kuharapkan, Kira malam ini tak bisa datang dan bergabung dengan kami berdua,
lebih kecewa lagi, ibunya yang menerima pesawat telfon Hans, akhirnya kita
hanya bisa mencari buku berdua, tanpa Kira, sampai-sampai, entah aku atau Hans
tak ada yang sadar, saat itu jam menunjuk pukul delapan, kiranya aku sempatkan
untuk menyatakan suatu perasaan rahasia pada Hans, tapi saat kulihat, Hans
begitu sulit untuk membuka kedua matanya, akhirnya, ku urungkan niat ku untuk
bertanya. “Hans, Hans, lo ngantuk, udah ayo pulang aja, gue yang anter lo,
santai aja, mobilnya kan bisa lo titip in disini”, sambil kugoyangkan bahunya,
Hans sedikit terpental, mungkin ia kaget. “Okedeh, Na, makasih ya, gue juga gak
tau ni, kenapa ngantuk bener, gak biasanya”, kata Hans sambil menguap beberapa
kali. Setelah itu, kuantar Hans sampai halaman rumahnya, kebetulan, malam itu
ibunya sudah pulang bekerja, aku bisa bersalaman dengan ibunya, mama Hans
memang orang yang sangat sibuk, maklum, Hans sebagai anak saja hanya bisa
bertemu ibunya dalam waktu terbatas, apalagi aku. Mama Hans tau kalau aku ini
Ariadna, jadi tak perlu ragu untuk membukakan pintu dan mengulurkan tangannya
untuk kusalami, setelah ada perbincangan cukup lama, aku akhirnya pulang karna
besok pagi aku juga harus mengantarkan Hans ke perpustakaan lagi, malam ini
begitu syahdu, anginnya bertiup kencang tanpa ada henti, kutarik jaketku dari
kursi tamu mama Hans, aku pulang dan aku tak ingat apapun setelah itu.
“Ariadna.... Ariadna .. bangun nak,
sudah jam berapa ini”, suara ibu samar-samar terdengar di telingaku, aku
sedikit marah, karna ibu memberai cerita apik di mimpiku, tapi, setelah aku
terbangun, aku seperti tersetrum, jam beker ku menunjuk di angka enam lebih
sepuluh, kubuka selimut, dan mandi, pagi itu aku benar-benar tutup mata dengan
keadaan rumah, aku langsung berpamitan pada ibu dan bergegas ke rumah Hans.
“Hans, sori, gue ngaret nih, gue
lupa bakal jemput lo”, nadaku pelan menyimpan rasa malu yang luar biasa, karena
aku bangun terlambat. “Udah gapapa, Na, langsung tanjak aja, anter gue ambil
mobil di perpustakaan”, kami berdua berangkat ke perpustakaan terburu-buru
karena ulahku tadi pagi. Sampai di kelas, aku tak melihat wajah Kira, aku mulai
bingung dengannya sekarang, dia jarang berkomunikasi dengan aku maupun Hans.
Setiap pulang, aku merasa sepi tanpa adanya Kira, makan bakso pun tak enak
rasanya, tak ada yang mau bercerita lagi soal Jack atau wanita penjual bunga di
seberang rumah Kira, entah ini perasaanku atau memang benar, mungkin Kira lagi
bermasalah.
“Hans, gue gak liat Kira seharian
ini, lo liat gak?”, “Gue juga nggak, Na, malah gue pengen tanya ke lo lagi, gue
coba telfon, gak aktif juga”, kalau soal telfon, aku jadi ingat sesuatu
perasaan rahasia yang ingin kutanyakan pada Hans, “Hans, gue mau tanya sama lo”,
tanyaku dengan sangat penasaran, kulihat dahi Hans yang mengernyit seakan aku
menginterogasinya, “Oke, lo mau tanya apa, kok penting banget gitu, Na” Hans
makin bingung. Aku menghela napas cukup panjang saat ini, aku langsung
melemparinya pertanyaan yang panjang, “Hans, lo suka kan sama Kira? Lo jujur
aja deh sama gue, lo santai aja, lagipula gue tanya gini bukan karna gue suka
sama lo, lo ngerti kan, gue udah punya, kalo emang lo suka sama doi, lo
langsung aja kasih dia pilihan, terima atau tolak, lo jangan malu-malu dong
Hans, justru itu kesempatan lo”, kataku membujuk dia, aku menyimpan seribu
teka-teki di hati, aku ingin melihat sahabat lelaki ku ini jujur terhadap
perasaannya padaku, tapi Hans sedih,
matanya seakan melampiaskan sebuah emosi, aku yang menatapnya dalam-dalam ingin
memeluk tubuhnya yang lemas, betapa tidak, dia hanya lelaki yang kalem, tak
banyak pembicaraan, tapi begitu tersiksa dengan wanita yang boleh aku katakan, playgirl, maksudku Kira, tapi tanpa
basa-basi lagi, Hans menjawab lirih, dia seperti berbicara dengan orang lain.
“Guuu..gueee sebenernya suka sama dia udah lama, Na, tapi gue egois dan gak
pernah dengerin perasaan gue sendiri, gue ini lemah, gak gentle, gue gak berani ungkap. Udah lah, Na, gue gak mau coba-coba
nyatain apapun ke Kira sedikitpun itu, lo tau kan gimana Kira, pasti dia masih
suka sama Jack”, Hans menjawab lemah dan penuh kecewa, aku yang sedari tadi
menunggui jawaban gila nya mulai emosi dan bosan, akhirnya, kita berdua pulang
dan sampai di rumah kurebahkan tubuhku yang letih diatas kasur, tapi tak lama
kemudian ada telfon masuk.
“Halo”, aku menunggu respon si
penelefon cukup lama, “Hh..halo Ariadna, ini aku Vicko”, aku begitu girang,
letih dan apapun yang menggelayuti tubuhku hilang, benar-benar aku merasa enteng.
Itu Vicko, cowokku, pandai, saat ini dia studi di Australia, setahun ini dia
tak pulang, aku begitu kangen luar biasa pada Vicko, dalam satu tahun
belakangan, jarang dan hampir tak pernah aku saling berkomunikasi lagi. “Iiiyayaaaaaa......
Vicko, sumpah, aku kangen banget sama kamu”, aku seperti merekat dengan telefon
genggam ku saat aku mendengar Vicko berbicara. “Kalau kangen, sekarang kamu
keluar dan ayo ke taman, jangan lama-lama, masalahnya aku udah di depan gang
rumahmu”, kata Vicko sambil tertawa kecil. Aku yakin, Vicko pasti akan
mengajakku ke Taman McLand, ini taman dimana aku dulu bertemu dengan Vicko si
pemuda yang baik hati, yang mau menolongku mengambil buku IPA ku yang terjatuh di
selokan saat aku masih SMA.
Lukisan warna oranye masih
menghiasi langit yang cerah ini, matahari masih mendampingiku, mendung yang
terbang serasa membukakan jalan bagi ku untuk menemui Vicko. Tanpa berpikir lagi, aku langsung berpamitan
pada ibu dan wajah Vicko yang berseri mulai menghampiriku, rasanya mulut ini
begitu terkunci dan kuncinya hilang entah kemana saat dia mulai melebarkan
mulutnya untuk memberiku senyum manisnya. “Vicko, aku hubungi Hans sama Kira
dulu ya, kamu udah pernah aku kenalin kan?”, “Hah? Belum lah, asing bener
namanya”, Vicko tersenyum, “Kalau belum yaudah aku kenalin deh”, aku menunggui
jawaban telfon dari Hans cukup lama, “ Halo Hans, ajak Kira ke taman McLand ya,
aku pengen kenalin kalian ke seseorang, jangan lupa Kira”, tanpa ada penolakan
Hans mengiyakan permintaanku.
Hans datang, tapi aku belum melihat
Kira, mungkin dia absen lagi, huh, aku sebenarnya ingin mencomblang kan dia dan
Hans sore ini juga, tapi apa boleh buat, sepertinya Kira bener-bener gak
datang, tapi aku salah, Kira datang membuntuti Hans. Mukanya terlihat berbeda
hari ini, tapi Hans langsung mengakrabkan diri pada Vicko. “Hei, lo Vicko?”,
Hans bertanya dan menaikkan alisnya, “Iya bro, ini gue, Ariadna banyak cerita
soal gue pasti”, mereka berdua akrab, maklum sama-sama laki-laki, kita berempat
menghabiskan sore yang indah itu bersama, karena besok pagi Vicko harus terbang
lagi ke Australia, aku sedih tentunya.
Esoknya di malam hari, aku, Hans dan
Kira harus ke perpustakaan lagi, malam itu gerimis mendatangi kami bertiga, ah,
baru kali ini ada gerimis, untungnya di malam gerimis ini Kira mau ikut, tapi
aku melihat kejanggalan di mukanya, dia begitu kosong dan tak berkata sepatah
kata pun padaku maupun Hans, kami berdua hanya bisa diam dan saling penasaran,
akhirnya daripada aku penasaran kutanyakan padanya. “Kir, lo sakit ato gimana
sih, daritadi lo diem gak ngomong apa-apa ke kita”. Kira berdiri, dan seperti
orang bingung, “Gue pulang aja deh Hans, Na, gue gak enak badan nih, tapi
tenang aja, gue udah order taksi kok, kalian gak usah anterin gue. Bye, thanks
buat undangan belajar nya”, tapi sebelum aku mengijinkan dia untuk pulang, dia
langsung berlari seperti maling yang ketauan mencuri. Akhirnya, selalu saja
menghadirkan ending yang aneh, hanya aku dan Hans yang disini membuka-buka buku
dan mulai menulis pekerjaan rumah. Sampai hujan grimis itu menjadi deras dan
reda lagi, kami pulang.
Sebulan.. dan dua bulan, aku tak
pernah tau kabar Kira, begitupun Hans, kami berdua memang sangat sibuk dengan
tugas-tugas yang menumpuk, sampai-sampai aku ingat Kira, aku tak basa basi, aku
menuju ke rumah Kira berdua dengan Hans untuk menanyakan bagaimana kabarnya,
hal ini yang membuatku begitu gila saat aku sampai disana. “Assalamu’alaikum,
Tante Rina... Tante... Tante..... Hans, kok pintu nya gak dibuka-buka ya,
kenapa sih?”, setelah aku ingin mengetuk pintu untuk keempat kalinya, pintu itu
terbuka, cahaya matahari masuk kedalam rumah itu hanya sedikit, rumah Kira
sekarang begitu pengap dan aku tak merasakan hawa ceria di rumah itu,
sampai-sampai dari kejauhan aku lihat bayangan seorang wanita yang putus asa
wajahnya membawakan kami secangkir teh yang hangat, itu ibu Kira. “Nak, kalau
kalian mau mencari Kira, bukan disini lagi, dia sekarang ada di Rumah Sehat.”, mata
Tante Rina berkaca-kaca, air mata yang awalnya masih bersembunyi di balik mata
itu akhirnya menetes dan lama-lama menjadi deras, aku juga tertegun dengan
pernyataan itu, Hans pun terperanjak dari duduk malasnya. “Apa? Rumah Sehat kan
rumah sakit jiwa, maksud tante apa ini, Kira bekerja disana atau siapa yang
gila?”, jantung ku berdebar secepat apapun itu, Hans juga tak bisa berkata
apa-apa, kami berdua begitu kalut dan sedih saat Tante Kira bilang kalau yang
gak waras itu Kira, padahal dua bulan lagi, kita akan lulus dan aku
membayangkan kita akan bekerja bersama-sama di rumah sakit sebagai dokter
bertiga lagi, tapi itu lebih seperti mimpi mustahil, tubuhku ini seperti di
terbang-terbangkan, otakku ingin pecah, mataku perih dan ingin meledak, satu
persatu tulang rusukku melayang-layang dan rapuh, seperti dipatahkan, rasanya
ada yang hilang dalam hidupku, aku begitu bodoh, meninggalkan sahabatku yang
butuh diriku disaat dia sedih, tapi aku justru menghilang, aku pukul Hans, tapi
Hans juga tak menghiraukan pukulanku, kita seperti di terkam, tanpa berpikir
lagi, aku dan Hans pergi ke Rumah Sehat. Sore itu benar-benar suram, hujan
deras dengan angin yan mengombang-ambingkan perasaan ku dan Hans tak mau
berhenti. Hans begitu kaget dan terpukul, aku yang menyetir mobilnya terasa tak
kuat memutar stang bundar itu, aku melihat raut wajah yang benar-benar mati,
tak ada rasa percaya dan apalah itu, mungkin Hans merasa bahwa itu adalah
wanita yang dicintai dan benar-benar di cintainya, kira-kira 15 menit lagi aku
sampai.
Disana suasananya begitu haru, saat
aku memasuki ruangan di lantai 4, aku bertemu Dokter Feri, dia sangat ramah dan
mau menjelaskan padaku, bagaimana keadaan Kira saat dibawa kemari, dokter
bilang bahwa Kira selalu mencari dan menyebut nama Riko, aku tak pernah percaya
kalau selama ini Kira sudah punya pacar, lagipula bagaimana aku bisa menerka
apa yang akan terjadi, aku bukan seorang peramal yang hebat, kalau aku bisa
meramalkan apa yang akan terjadi pada Kira saat ini, aku tak mungkin diam saja,
sayang aku hanya gadis biasa yang mungkin lemah, tapi memang kita bertiga
sama-sama sibuk dan tak bisa berkomunikasi lagi. Aku masuk ke kamar itu, tepat
nya kamar 24, aku melangkahkan kaki ku perlahan dan penuh perasaan, dan saat
kulihat gadis mungil di pinggir kasur, aku mulai menghampirinya. “Hai, Kira,
aku dateng sama Hans, kita berdua sayang sama kamu Kira, maafin aku kalau
selama ini aku gak mau peduli sama kamu lagi, ayolah Kira, sembuh ya, dua bulan
lagi kan kita lulus, oke”, air mataku menetes, sebenarnya aku tak mau
meneteskan air mataku, tapi mataku begitu pedih, sambil sesekali aku menyeka
air mataku dan mengelus dadaku yang sakit ini.
“Riko.. Riko.. Riko.. kapan pulang..”, aku
kaget, kuusap air mata yang menetes di pipi ku, aku dan Hans sama-sama terkejut
mendengarnya menyebut nama lelaki misterius itu, dokter memang tak berbohong
padaku bahwa Kira memang gila karena lelaki itu, aku harus aku temukan, aku tak
pernah rela melihat sahabatku yang begitu jatuh seperti ini, aku berbicara lama
dengan Dokter Feri saat itu, aku seperti seorang detektif yang mengeruk
berbagai informasi soal masalah Kira, tapi sama saja, hasilnya nol besar, aku
tak dapat informasi apapun soal Kira. Dokter menyarankan ku untuk melihat hasil
perkiraan kondisi Kira, disitu ada tulisan diagnosa dokter, bahwa Kira itu
trauma atas sebuah perasaan, mungkin cinta. “Saya benar-benar baru melihat
gadis yang se muda ini merasakan sakitnya cinta, Nona Ariadna, tapi ini masih
tahap penyembuhan dan masih diagnosa, hanya satu yang mungkin bisa
menyembuhkan, yaitu Anda sebagai sahabat”, Dokter Feri tersenyum, saat ini aku
tak bisa membalas senyumnya. Aku murung, aku tak pernah berbicara sepatah kata
pun pada Hans di perjalanan pulang kami.
Siang hari, kuurungkan niatku untuk
ke perpustakaan umum, aku membicarakan masalah Kira dengan Hans, aku menanyakan
pada Hans soal teman-temannya, tapi Hans tak pernah punya nama teman Riko. Aku
ajak Hans ke rumah Kira untuk mencari informasi, tapi Hans menolak ajakan ku,
mungkin dia sudah menolak tawaran ini dua kali, saat ku sms dulu. Tapi, malam
itu dia kuajak ke perpustakaan, dia menyanggupi, aku muak dan emosi dengan
Hans. “Hans, lo kenapa selalu nolak kalo gue ajak lo ke rumah Kira, dia sahabat
kita kan Hans, bukan berarti dia gila, trus kita langsung tinggalin dia kan, lo
gak boleh egois gini dong Hans”, aku emosi berat saat itu, ingin kutampar Hans
dengan tanganku, tapi aku tetap diam, “Gue bukannya gak mau bantu, Na, tapi..”,
Hans terlihat melepaskan tanggung jawab pada sahabatnya sendiri, tanpa berkata
apapun, aku langsung mengangkat tas ku dan kubawa buku-buku pr ku, kutinggalkan
Hans yang terlihat sangat bodoh hari ini.
Sebulan setelah dari Australia,
Vicko kembali lagi ke Indonesia, mungkin dia ada rehat kira-kira 3 minggu, kuceritakan segala perasaan sedih yang mendera
hatiku saat ini, tentang Kira ataupun Hans, Vicko mendengarkanku dengan tenang
dan penuh resapan, mungkin dia tidak ingin wanita yang dikasihinya sedih dan
terpaku dalam keadaan seperti ini. “Aku curiga sama Hans, Vick, dia itu kaya
gak mau peduli sama Kira ataupun perkataanku lagi, dia selalu nolak tawaranku
kalo aku ngajak dia buat pecah in teka-teki lelaki itu, si Riko”, aku mengeluh
dan mengeluh pada Vicko. “Yaudah yang penting kamu jangan terlalu obsesif
dengan masalah Kira, dua bulan lagi kamu kan lulus, udah fokus sama itu aja,
percaya, Hans itu cuma lelah soal ini semua”, Vicko tersenyum dan aku luluh
akan senyumnya yang begitu menenangkan hatiku. Dia mengantarkan ku ke kampus
untuk pertama kalinya.
Siang itu aku tak melihat Hans,
tak seperti biasanya dia menghilang seperti ini, aku sudah mulai merasakan satu
persatu bagian tubuhku hilang, saat Hans juga ikut menghilang, aku sebenarnya
ingin mengajak Hans ke rumah Kira untuk ke berapa kalinya aku sudah tak peduli,
tapi hp nya off off dan off.. Aku curiga soal Hans, betapa tidak, saat Kira tak
waras dan dia menjadi aneh, justru Hans menghilang seperti dialah yang selama
ini menjadi lelaki misterius dalam hidup Kira, tapi aku lupa satu hal, Vicko, langsung
saja kuhubungi dia. “Hallo, Vick, kamu mau kan temenin aku ke rumah Kira, plis
aku butuh bantuan kamu saat ini”, aku memohon dan “Ya”, Vicko mau mengantarku.
Aku masuk ke dalam kamar Kira,
kulihat kamarnya memang masih sangat rapi, dalam bersahabat, kami bertiga
memang belum pernah berkunjung sampai ke dalam kamar, jadi aku masuk sendirian
kemari, kubuka tiap-tiap celah almari nya, tapi tak pernah kutemukan apapun,
sampai aku hampir menyerah, pandanganku tertuju pada handphone Kira diatas
meja, saat kubuka, aku benar-benar terbelalak, mataku rasanya ingin copot,
Riko, di sms itu memang ada contact
Riko, aku juga menemukan sebuah bingkisan rapi yang ada di pojok meja
belajarnya, itu seperti kado ulangtahun, karena 3 hari sebelum Kira masuk rumah
sakit jiwa, dia ulangtahun, tapi aku tak peduli dengan kado itu, aku hanya
peduli dengan isi sms itu yang menyatakan bahwa dia khawatir akan hubungannya
yang lama-kelamaan bisa saja terbaca olehku atau Hans .
“Rik,
gue takut kalau gue ketauan sama temen-temen gue, lo kapan balik sih, gue gak
tau gimana lagi, gue gak bisa hidup kaya gini, Rik”, itu sms yang dikirim Kira buat
Riko, tapi aku masih bingung, apa maksudnya balik, memang Riko itu orang mana,
setau ku yang punya pacar sibuk yang bolak-balik luar negri cuma aku, ah aku
kesal, aku menaruh curiga pada dua lelaki, entah itu Hans atau Vicko, aku mulai
muak dengan perasaan ku ini.
Aku keluar dari kamar Kira, tapi
kusimpan rahasia soal sms itu, Vicko pun menanyakan padaku penuh penasaran,
“Gimana, Na, ada clue?”. “Gak kok,
Vick, pulang aja, aku capek banget”, aku serasa tak pernah bisa memaafkan diriku
ini, aku sedih, emosi, penuh dendam, dan aku lemah soal ini. Perasaan ku masih
janggal soal kamar Kira, ada sesuatu yang tak bisa ku tinggalkan begitu saja,
ada petunjuk lain barangkali aku tak menemukan itu, di sepanjang perjalanan,
aku hanya bisa terdiam karna perasaan ku yang sungguh bercampur aduk
Kuulang lagi untuk pergi ke rumah
Kira esok harinya, aku benar-benar tak pernah mau menyerah, tapi kali ini tanpa
Hans maupun Vicko, mungkin dengan kedatangan ku sendiri, aku tak perlu lagi
berbohong dan sedih saat melihat orang lain menanyaiku, dan aku mulai membuka
apapun yang dapat dibuka, mulai dari almari, tempat aksesoris, atau tempat
sampah yang ada di pojok kamar, ternyata benar, belum 30 menit aku mencari, aku
temukan buku diary Kira disamping tempat tidur, buku itu jatuh diatas lantai,
kubuka buku diary gembok itu dengan perlahan, air mataku menetes dan tak mau
berhenti, ada foto kami bertiga saat masih SMA sampai saat kami berlibur ke
pantai, sampai kubuka halaman terkahir, kuusap air mataku, dan kuresapi tulisan
tangannya yang lembut, tulisan itu sungguh menekan hatiku sampai dalam.
“Aku
bertemu Riko saat sebelum aku dan dua sahabatku bertemu di taman sore itu, dua
hari sebelum menemui Ariadna, pagi hari di depan rumah penjual bunga, Riko
memberiku bunga, kita memang saling suka, aku tau hubungan ini memang sangat
terlarang, tapi aku benar cinta padanya, padahal aku tau, bahwa dia itu pacar
sahabatku sendiri, aku ingin mati, aku tau dia itu Vicko, tapi aku akan
sembunyikan dia dalam nama Riko, biarkan aku sembunyi dari Hans dan Ariadna,
aku sahabat khianat!”
Aku menekan dadaku sangat kuat
dan memejamkan mataku sampai semua nya terlihat begitu gelap, hatiku seperti
ditusuk tombak yang runcing, seperti disayat dengan pisau bermata dua, aku
ditusuk mereka berdua dari belakang, aku begitu sayang pada Vicko, tapi justru
dia berbalik memberiku sebuah pengkhianatan yang luar biasa perih, apalagi Kira
yang begitu memukul perasaan ku begitu dalam. Aku keluar dari rumah Kira dengan
rasa yang cukup lega, karena semua ini sudah terjawab.
Sore hari setelah petualanganku
yang melelahkan, Vicko menanyaiku “Sayang, kamu mau jenguk Kira gak malem ini, mendingan
gak usah aja ya, aku yakin kamu capek kok, bye”, aku curiga dan sangat curiga,
tapi aku menjebak Vicko yang kelihatannya akan melakukan apalah itu malam
nanti, aku balas sms nya. “Aku emang capek banget, aku lagi males nih
kemana-mana, capek tadi habis pergi bareng Hans”. Akhirnya Vicko memberikan
emot tersenyum pada sms nya, aku bisa membaca, Vicko seperti anak kecil yang
kubohongi, karna kuturuti rencananya yang aku pun tak pernah tau.
Tapi sekarang aku memang harus
bergantian untuk membodohi Vicko, tanpa Hans, aku berangkat ke Rumah Sehat
sendirian, tanpa rasa takut atau apapun itu, tapi sampai disana, Dokter Feri
melarangku untuk masuk ke dalam ruangan Kira yang ternyata sudah diipindah ke
lantai 8, aku mulai curiga, ada sesuatu disini, tapi aku cukup tenang, saat
dokter itu pergi, aku menyelinap dan masuk, dan itu benar-benar gila, Vicko ada
di dalam kamar Kira, dan dia mengancam Kira dengan sebilah pisau, aku
benar-benar terkejut, aku tak mau berkedip dan tak bisa membiarkan mataku ini untuk
bisa terpejam, tapi itu mustahil. Vicko berbalik kehadapanku, dia begitu kaget
dan sedikit marah, akhirnya kuutarakan semua perasaan
dan segala hal yang kutau soal
hubungan terlarang keduanya. “Vicko, saat kamu di Australia, aku gak pernah
curiga sama kamu soal kamu ada hubungan dengan siapa aja, aku selalu percaya
bahwa kamu itu disana cuma mau menimba ilmu, kamu juga bilang ke aku kalau kamu
percaya aku juga gak ada apa-apa sama laki-laki manapun, tapi kamu malah
khianat, kamu bohong dan buat temenku jadi gila, maksudnya apa ini, aku itu
kurang apa sih Vick?”, aku tak pernah bisa mengehentikan dan benar benar tak
bisa menghentikan air mataku, tapi aku benar-benar kaget saat dia mengancamku
dengan pisau nya dan ditodongkannya ke leherku, aku benar-benar sudah tak tau
harus apa lagi, dia juga mencoba mencari kesalahanku. “Aku tau kamu itu bilang
kalau kamu gak akan pernah mengkhianatiku, tapi aku jealous sama Hans, Kira cerita kalau Hans itu bener-bener deket
sama kamu, aku itu tau pasti lama-lama akan ada perasaan cinta juga, kamu itu
bodoh Ariadna, jangan kamu terka kalau selama ini aku dan Kira diam itu tidak
ada apa-apanya”, dia mengatakan itu dengan emosi, aku hanya terdiam dan
menangis, Hans tak ada disini, tapi Vicko begitu dendam padaku, dia benar-benar
ingin menggorokku, aku berteriak kencang, dan “Ariadnnaaaaaaaa.......”, suara Hans yang
panjang memanggilku. Dia datang dengan tepat. “ Vicko, Vicko, lo gila bro, itu
pacar lo sendiri, lo gak punya hati”, Hans datang dan melarang Vicko melakukan
hal gila itu, aku begitu lega melihat sahabatku itu yang awalnya kukira ia
jahat ternyata ia adalah pahlawan, tapi aku benar-benar takut saat mereka
bertengkar, akhirnya Kira mau menghentikan itu. “Sudah Hans, kamu lebih baik
jaga Ariadna baik-baik ya, maafin aku Ariadna, aku berkhianat”, Kira menangis
dan sangat menyesal akan hal itu, tapi aku justru hanya terdiam dan tak bisa
berkata apa-apa, tapi sungguh, aku sebenarnya memaafkan Kira, tapi aku tak bisa
memaafkan Vicko.
“Hai, kalian berdua yang bodoh, aku akan
menghancurkan persahabatan kalian bertiga, biarkan ini semua hilang. Memang
kalian kira, wanita gila ini akan menjadi teman kalian”, Vicko mengancam akan
lompat dari jendela bersama Kira, aku melarangnya tapi Kira justru berkata
lain. “Hans, Ariadna, biarkan aku pergi, aku kan sudah berkhianat dengan kalian
berdua, bodohnya aku ini yang tak bisa menghargai sahabatku sendiri. Aku juga
minta maaf padamu Hans, aku sudah menolak cinta tulusmu itu secara kasar
berulang kali, aku ini sombong dan bodoh, Hans”. “Aku tak pernah bisa memaafkan
diriku sendiri kalau aku gak bisa memaafkan kamu, oke kan, ayo sekarang kamu
ikut aku sama Ariadna, kita kuliah bareng lagi dan makan bakso bareng lagi, ke
perpus bareng lagi, jadi dokter bertiga lagi”, Hans mengulurkan tangan
persahabatan yang tulus itu ke arah Kira. Akantetapi, aku benar-benar tak
pernah menduga ini, Vicko melompat dari jendela, dia juga menarik kain putih
halus yang dipakai Kira, Vicko dan Kira bunuh diri, mereka melompat dari
jendela bersama, aku berteriak kencang dan rasanya juga ingin melompat bersama
mereka, “Tidaaaaaaaaaaaaakkkkkk....... Vicko, Kira, gue maafin lo berdua”. “Udah
lah, Na, mereka itu salah, biarin, lagipula mereka pasti udah mati, dengerin
gue, gue minta maaf, soalnya dulu gue gak mau bantu lo itu, gue mau buktiin
kalo mereka berdua emang pacaran, ini fotonya”, Hans menunjukkan foto mereka
berdua yang mesra itu, ah, perasaan ku kalut, kusobek-sobek foto itu, kututup
mataku dan aku pulang. Esok harinya, aku mengadiri pemakaman keduanya bersama
Hans, aku benar-benar tak pernah tau kalau hidupku begitu gila.
Tiga tahun aku menikah, tiga
setengah taun aku lulus dan bekerja, dan empat tahun setelah kejadian itu, aku
membuka album foto merah muda, aku menangis, disitu ada fotoku dulu saat masih
kecil, foto awal remaja ku, dan foto-foto masa mudaku dulu saat bersama 2
sahabat ku, aku benar-benar punya pengalaman yang begitu berharga dalam hidup
ini, tak pernah kubayangkan sebelum-sebelumnya kalau akan seperti ini.
Suara kecil yang samar membisiki
telingaku, “Bunda, ini foto bunda sama sahabat bunda ya?”, itu Eames Art,
anakku, aku sadar sekarang aku punya tanggung jawab yang lain selain dokter,
yaitu menjadi seorang ibu. “Iya sayang, ini namanya Tante Kira Versley, tapi
sudah meninggal, dan ini Bunda”, sambil berkata aku tunjukkan fotoku dan Kira
saat dulu di pantai. “Kalau ini siapa Bunda? Ayah ya?”, saat aku akan membuka
mulutku, ada tangan yang menutup album itu dari belakang, sambil ia memegang
tanganku dengan erat, yaitu Hans, sambil menggenggam tanganku, ia berkata, “Ya
Eames, itu ayah, dulu Ayah dan Bunda itu sahabat karib. Kalau kamu besar nanti,
cari teman seperti bunda ya, yang cantik, baik, gak pernah marah lagi”, Hans
tersenyum, aku dan Eames juga ikut tersenyum bahagia. Ya, aku Ariadna Francso,
aku adalah istri Hans Elvras Jeff. Sekian kisahku, ini sebuah pengkhianatan
yang dibalas dengan seribu kebahagiaan bersama keluarga kecilku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar